Nasi sudah menjadi bubur. Kebijakan telah diambil. Saat ini nasib perawat dalam persimpangan jalan, antara visi besar PPNI dan pemerintah (Menteri Kesehatan, MENPAN, BKN). coba pelajari ini :
1. PPNI mendorong anggotanya sekolah setinggi-tingginya, dari S1,S2,S3 sampai profesor, tetapi pemerintah tidak sejalan
2. PPNI ingin UU Keperawatan segera di sahkan, tetapi pemerintah sebaliknya
3. PPNI ingin perawat mendapat tunjangan kesehatan yang layak (beresiko tertular penyakit), pemerintah diam saja
KOMPUTERISASI PUSKESMAS, Kebutuhan atau Kewajiban ? Karena Anggaran atau Kepedulian ?
tulisan ini hanya copy paste dari saudara jauh kita : www.puskesmaspunung.co.cc
' Judul diatas saya lanjutkan ya.... apakah komputerisasi puskesmas itu karena atasan atau bawahan ( he ehe he....he....awas yo...pilih salah satu gak boleh dua-duanya?'
Untuk mengatasi kelangkaan dokter di daerah, Menteri Kesehatan mengupayakan agar mulai tahun ini Puskesmas dan Rumah Sakit tak lagi memakai kertas (paperless). Rekam medis dicatat secara elektronik, sehingga pemeriksaan bisa dilakukan jarak jauh.
Dengan teknologi informasi, Puskesmas atau Rumah Sakit di daerah tidak harus merujuk pasiennya ke kota-kota besar hanya untuk mendapatkan penanganan dokter spesialis. Misalnya pasien melakukan rontgen di Lampung, gambarnya bisa dikirim saat itu juga untuk diperiksa di Jakarta.
' Judul diatas saya lanjutkan ya.... apakah komputerisasi puskesmas itu karena atasan atau bawahan ( he ehe he....he....awas yo...pilih salah satu gak boleh dua-duanya?'
Untuk mengatasi kelangkaan dokter di daerah, Menteri Kesehatan mengupayakan agar mulai tahun ini Puskesmas dan Rumah Sakit tak lagi memakai kertas (paperless). Rekam medis dicatat secara elektronik, sehingga pemeriksaan bisa dilakukan jarak jauh.
Dengan teknologi informasi, Puskesmas atau Rumah Sakit di daerah tidak harus merujuk pasiennya ke kota-kota besar hanya untuk mendapatkan penanganan dokter spesialis. Misalnya pasien melakukan rontgen di Lampung, gambarnya bisa dikirim saat itu juga untuk diperiksa di Jakarta.
Misran, Sang Pahlawan Mantri Desa
sumber : abuga / www.kompasiana.com
Masih ingat Bapak Misran? seorang mantri (perawat) desa Kuala Samboja, Kutai Kertanagara, Kalimantan Timurdi pedalaman Kalimantan Timur yang ditangkap karena membantu orang yang membutuhkan pengobatan. Ia dituduh melanggar UU No36/2009 tentang Kesehatan.
Setelah divonis bersalah kemudian melakukan uji materi UU tersebut ke MK. Kemarin MK memutus mengabulkan permohonan Misran. Dengan demikian kini para mantri boleh melakukan pelayanan kesehatan layaknya dokter. Klausul yang membolehkan mantri praktek adalah “perawat yang melakukan tugasnya dalam keadan darurat yang mengancam jiwa pasien diperlukan tindakan medis segera untuk menyelamatkan pasien”.
Masih ingat Bapak Misran? seorang mantri (perawat) desa Kuala Samboja, Kutai Kertanagara, Kalimantan Timurdi pedalaman Kalimantan Timur yang ditangkap karena membantu orang yang membutuhkan pengobatan. Ia dituduh melanggar UU No36/2009 tentang Kesehatan.
Setelah divonis bersalah kemudian melakukan uji materi UU tersebut ke MK. Kemarin MK memutus mengabulkan permohonan Misran. Dengan demikian kini para mantri boleh melakukan pelayanan kesehatan layaknya dokter. Klausul yang membolehkan mantri praktek adalah “perawat yang melakukan tugasnya dalam keadan darurat yang mengancam jiwa pasien diperlukan tindakan medis segera untuk menyelamatkan pasien”.
Sang Mantri Misran yang Masih Menanti Wahyu
Hampir satu tahun, kasus mantri desa, Misran, teronggok di Mahkamah Konstitusi (MK). Hingga kini, Misran terus berharap kasusnya tidak mengambang. Apalagi, dengan nasib mantri desa yang dikriminalisasikan oleh UU Kesehatan, membuat para mantri lainnya menjadi was- was akan dipenjara juga.
Pengamat Kesehatan: Ada yang Tidak Beres Dengan Pengadilan
Keputusan Banding Pengadilan Tinggi (PT) Samarinda yang menguatkan keputusan PN Tenggarong kemarin, membuat tanda tanya besar. Masyarakat menilai ada yang tidak beres dengan pengadilan karena hakim harusnya memahami kondisi geografis dan latar belakang masalah.
APAKAH PERLU MANTRI DIPERHATIKAN ?
ini adalah tulisan dari www.perawat.co.cc, hanya copy paste lho....
Mantri begitulah masyarakat mengenalnya, ada mantri sunat, ada mantri suntik, ada mantri cacar, dsb, tapi pada intinya adalah mantri kesehatan. dalam perjalanan kesehatan di Indonesia peran para mantri ini sebetulnya sangatlah besar kalau tidak bisa dikatakan dominan. tapiseiring dengan perjalanan waktu, di tambah dengan tidak pandainya para ” mantri ” ini membangun citra dan bermain politik, membuat mereka terpinggirkan secara perlahan lahan, bahkan tidak jarang akhir2 ini para mantri diperlakukan tidak lebih mulia dari maling ayam. sayang hal tersebut belum membuat para mantri tersebut tergugah untuk berjuang mempertahankan hak dan martabatnya, bahkan masih ada sebagian besar para mantri yang terlelap di nina bobokkan oleh kepentingan sesaat mereka, mereka tidak sadar bahwa bahaya kepunahan sedang mengancam eksitensi mereka.
MANTRI, DIPUJA DAN DIANIAYA
Sejak zaman belanda, mantri menjadi ujung palayanan kesehatan dan dimanfaatkan pemerintah untuk menyukseskan program kesehatan. Selain itu, masyarakat sangat senang kehadiran mantri karena memberikan solusi mudah dan murah untuk masalah kesehatannya.
Ayooo.... belajar pada PLN (Dahlan Iskan)
Senin, 02 Mei 2011
Bulan puasa datang terlalu cepat di PLN. Mulai kemarin, 1 Mei 2011, orang-orang PLN sudah bertekad puasa sebulan penuh: puasa SPPD (surat perintah perjalanan dinas). Selama Mei ini tidak akan ada biaya perjalanan dinas. Orang-orang PLN ingin membuktikan bahwa upaya efisiensi juga harus menyentuh hingga hal-hal yang kecil. Orang-orang PLN juga bertekad bahwa SPPD tidak boleh lagi menjadi bagian dari sumber mata pencaharian tambahan. SPPD bukanlah perjalanan gratis untuk tujuan yang kurang penting. SPPD bukanlah sumber pemborosan perusahaan.Tekad berpuasa itu sudah bulat. Itu diterapkan untuk membentuk suasana baru dan tekad baru. Maklum, SPPD sudah begitu besarnya di PLN. Sebulan rata-rata terdapat 28.000 orang PLN yang melakukan perjalanan dinas. Lengkap dengan tiket, hotel, dan uang saku.
Tentu banyak juga yang tidak setuju diberlakukannya “puasa SPPD”. Ada yang menggunakan alasan ilmiah, ada juga yang sekadar emosional. Bahkan, ada yang mengatakan ini bahaya: puasa SPPD ini akan membuat korupsi berkembang karena pada Mei tidak ada pengawasan. Pokoknya bermacam-macam alasan yang dikemukakan. Intinya, ada yang keberatan Mei ditetapkan sebagai bulan tanpa SPPD. Untunglah, mayoritas menyatakan bangga bahwa PLN berani mencoba berbuat radikal dalam memperbaiki dirinya.
Banyak hikmah yang akan didapat dari “puasa SPPD” sebulan penuh ini. Penggunaan teknologi telewicara akan meningkat. Selama ini PLN sudah menyewa mahal teknologi telewicara, tapi jarang sekali dimanfaatkan. Banyak juga persoalan yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan e-mail. Tapi, cara modern dan murah itu masih belum sepenuhnya menjadi budaya.
Orang-orang PLN juga menyadari, di perusahaan ini sudah terlalu banyak rapat. Undangan rapat terbesar dilakukan PLN pusat. Bukan hanya banyak, tapi juga kurang hemat. Bahkan, sering tidak masuk akal. Rapatnya dua jam, tapi SPPD-nya bisa dua hari. Itu terjadi karena saat menentukan jam rapat tidak mempertimbangkan efisiensi SPPD. Misalnya, mengundang rapat pada jam 09.00. Peserta yang berasal dari luar Jakarta, mau tidak mau, harus sudah datang sehari sebelumnya. Ada juga persoalan “siapa” mengundang “siapa”. Terlalu banyak pejabat yang mengundang pejabat lainnya.
Memang agak gila juga penetapan “puasa SPPD” ini. Misalnya, bagaimana kalau terjadi bencana, katakanlah ada tower yang roboh? Masak, sih, tidak ada SPPD? Khusus untuk yang satu itu direksi berdebat panjang. Semula ada keinginan agar “untuk hal-hal yang emergency akan ada pengecualian”. Tapi, pendapat itu lemah karena di negeri ini terlalu gampang menetapkan yang kurang emergency menjadi sangat emergency. Lalu, ada pikiran bahwa “untuk hal-hal yang luar biasa boleh minta dispensasi”.
Itu pun diangap lemah karena akan menimbulkan administrasi birokrasi yang ruwet. Maka, akhirnya ditetapkan: tidak ada pengecualian, tidak ada dispensasi, tidak ada toleransi. Semua itu dianggap godaan yang harus dilawan. Sekali pemimpin tidak tahan akan godaan, maka godaan-godaan berikutnya akan menyusul. Bahkan, kemudian, terhadap godaan yang kecil pun tidak akan tahan.
“Tahan godaan” itulah yang menjiwai sikap “puasa SPPD” secara konsisten. Tentu ada korbannya. Salah satu korban itu adalah saya sendiri. Beberapa bulan lalu, jauh sebelum keputusan “puasa SPPD” ini ditetapkan, saya sudah menyetujui diadakannya konferensi internasional meteran listrik di Bali pada Mei. Acara itu adalah acara tahunan dan tuan rumahnya berganti-ganti. Tahun ini Indonesia yang menjadi tuan rumah.
Tentu harus ada orang PLN yang pergi ke Bali. Termasuk harus ada orang PLN yang menjadi panitianya. Itulah godaan setan paling nyata yang langsung menimpa saya. Adalah salah saya sendiri mengapa menyetujui acara itu. Adalah salah saya sendiri mengapa saya tidak minta jauh-jauh hari agar acara itu digeser sebulan. Adalah salah saya sendiri mengapa tidak memindah acara itu di Jakarta.
Tapi, nasi sudah menjadi sushi. Acara itu sudah terlalu dekat sehingga tidak mungkin diapa-apakan. Maka, dalam rapat direksi di Pangandaran akhir April lalu saya menyatakan bahwa saya harus bertanggung jawab atas kelemahan saya itu. Semua biaya orang PLN yang berangkat ke acara itu akan saya tanggung secara pribadi.
Ternyata masih ada kejadian lain yang juga membawa korban. Direktur Operasi Indonesia Timur Vickner Sinaga mengemukakan bahwa pertengahan Mei ini ada proyek yang akan jadi yang harus disertifikasi. Itu juga buah simalakama. Tidak disertifikasi berarti pemanfaatkan proyek tertunda. Disertifikasi berarti harus mengundang orang jasa sertifikasi ke lokasi yang berarti harus ada SPPD.
Mau tidak mau, simalakama membawa korban juga. Orang Minang memang bisa menyelesaikan problem buah yang satu itu dengan cerdas. Kalau dimakan mati ibu dan tidak dimakan mati ayah, orang Minang memilih untuk menjual saja buah itu: tidak ada yang perlu mati, bahkan bisa mendapatkan uang. Namun, dalam kasus sertifikasi ini harus ada yang mati. Pak Vickner harus menanggung secara pribadi biaya mendatangkan orang jasa sertifikasi itu ke lokasi. Kebetulan Pak Vickner punya restoran masakan Batak yang sangat maju di Balikpapan. Anggap saja ini zakatnya!
Adilkah Vickner harus menanggung ‘dosa’ itu? Menurut saya, adil. Sebab, proyek itu mestinya sudah selesai bulan-bulan sebelumnya. Kalau saja proyek itu tidak terlambat, tentu penyertifikasiannya bisa dilakukan pada April.
Hikmah lain yang ingin didapatkan dari “puasa SPPD” adalah seberapa sudah majunya proses perubahan manajemen di PLN. Manajemen yang baik tentu yang bisa mengatasi persoalan ketika persoalan itu muncul. Seberapa pun besarnya persoalan itu. Manajemen yang baik adalah yang juga baik sejak dari perencanaannya. Bulan tanpa SPPD ini diputuskan tiga bulan sebelumnya. Kalau saja sejak saat itu semua jenjang manajemen melakukan proses manajemen yang baik tentu antisipasinya sudah dilakukan dengan baik.
Maka, dengan datangnya bulan puasa SPPD ini, saya mengucapkan selamat berpuasa kepada seluruh jajaran PLN dan anak perusahannya. Inilah puasa yang benar-benar puasa karena setelah sebulan penuh berpuasa nanti tidak akan datang yang namanya hari raya! Mohon maaf lahir batin! (*)
Dahlan Iskan
CEO PLN
mmmmrronnn.................masihkah kamu masih ngopi dan melek sampai subuh
'nekatnya debat kusir sampai pagi di kos-kosan pasar minggu ditemani jagung dan ketela rebus' cuma membahas komputer dan jagad unik ini.
Sejak lulus kuliah, kami sibuk dengan dunianya sendiri. Memang itulah hidup, seperti burung yang setiap pagi keluar sarang dan terbang mencari makna hidup lalu sore harinya pulang kandang. Gak jauh beda dengan imron, lelaki tulen asal Pandeglang, Banten. Setelah lama sibuk dengan dunianya sendiri, aku dikejutkan dengan namanya tertulis di jejaring sosial.
Meski sebelumnya aku kadang ingat masa ’muda’ sewaktu kumpul dulu. Kuliah bareng, ngontrak bareng, pindah kos-kosan bareng, makan,minum, tidur, naik gunung, jalan-jalan, belajar, debat, diskusi dan semuanya dilakukan bersama-sama.
Tapi yang paling kuingat adalah, ngopi, merokok, kaos putih lusuh dengan lengan dipotong, celana jeans dipotong pendek, kata-kata lugas, berbobot, mendalam, senyum gingsul dan alur pikiran yang kadang rumit dan kadang sederhana. Kalau urusan wanita muda, dia jagonya.
INILAH 'ORDE BARU' YANG KITA CINTAI
'ditanganmu, merubah dunia semudah membalik telapak tangan'
‘berikan aku lima pemuda, kan ku rubah dunia’ by Soekarno. (maaf jika salah kutip).
Sore ini aku didatangi pengelola sekolah baru. Jumlahnya 3 orang, 1 laki-laki dan 2 wanita. Mari kita pelajari komposisi angka-angka itu. 3 menggambarkan angka ganjil yang bisa ditafsirkan aneh. 1 menjelaskan satu tujuan yang bulat. 2 adalah pasangan yang serasi.
Dari sisi lain, perbandingan 1 laki-laki dan 2 wanita adalah jumlah wanita memang lebih banyak dan emansipasi wanita berhasil. Meski jumlahnya sedikit, laki-laki tetap nomor 1 (mmmhhm .... he he ...ha...ha...huuuu....). ini Cuma otak-atik angka loh, jok digawe seriuslah.
Mereka ini ingin kerja sama dan tentu saling menguntungkan. Setelah diskusi sebentar, kesepakatan itu muncul juga. (aku memang aliran mudah, cepat, murah, sederhana). Mengapa begitu, karena ’mudahkan urusan orang, jangan dipersulit’. Kemudian ’cepatlah taubat sebelum terlambat’. Lalu ’dijual murah’. Ada lagi ’sederhanakan suaramu’. Meski gak nyambung, ternyata ada benang merahnya juga.
bersyukurlah pada 'PAHIT' nya hidup
Hari-hari yang indah......
Hari ini aku benar-benar disadarkan kembali akan makna ke-pahit-an hidup. Terima kasih sahabatku yang memberikan inspirasi itu padaku. Tak pernah kubayangkan, kondisi baik-baik saja ternyata tidak membuatku lebih baik.
Sejak manusia lahir, hasrat manusia menjauhinya. Berbagai upaya dilakukan untuk tidak menyentuhnya, apalagi menelan pil pahit itu. Tetapi, sudah menjadi garis hidup manusia lumrah, setiap orang sepertinya sudah pernah merasakan. Ada yang jarang-jarang dan tidak teratur, tetapi ada yang rutin dan menjadi menu wajib. (seperti minum obat TBC).
Memang efek pil itu sangat manjur, meski makna manjur ini bukan mesti menjadi baik. Soalnya apa ?....pil ini bisa menjadikan orang patah semangat, goyah, putus asa, sedih, menangis, marah, benci dan setumpuk emosi jelek lainnya.
Tulisan ini tidak membahas lebih jauh efek negatif pil pahit itu. Karena apa mas,,,,,,!!!!!! (mas adalah panggilan yang bisa bikin laki-laki lemah hatinya,,he he he). ”Karena, dalam kitab suci ada kalimat = sesudah ada kesulitan ada kemudahan.
Dari berbagai narasumber plus daftar pustaka yang lawas maupun tahun 2000-an kesini, menunjukkan 90% kesuksesan manusia disebabkan seringnya manusia itu mau menelan pil pahit. Sedikit sekali cerita, kisah, legenda dan sejarah yang mencatat kesuksesan itu tidak dari satu pil ini.
Lihatlah riwayat hidup penutup para Nabi. Sejak dalam kandungansudah ditinggal mati bapaknya, sejak kecil ibunya juga tiada, dirawat kakeknya cuma sebentar, lalu dirawat pamannya. Dia dididik mandiri, menggembalakan kambing dan berdagang. Tidak menikmati fasilitas mewah. Sering merenung sendiri di gua. Menjaga diri dari masyarakat yang ’aneh’ dan ’sakit’.
Dan apa yang terjadi, Tuhan memberikan karunia besar berupa kenabian, pengikut, kekuasaan dan harta yang menyertainya. Tapi karena memang manusia mulia, Nabi pilihan ini tidak ’lupa’ dan goyah oleh pesona dunia ini.
Kalau telaten, coba pergi ke toko buku. Cari buku kisah sukses atau buku karangan motivator terkenal (tidak terkenal juga boleh). Dari tulisan didalamnya, banyak memuat kisah spektakuler yang dulu dikatakan mustahil. Dari pedagang asongan menjadi juragan besar, dari pengamen jadi penyanyi terkenal, dari tukang cuci piring jadi pengusaha makanan atau dari penjaga toko jadi konglomerat.
Dan kalau mau meneliti, kesuksesan dan kebahagian kita lebih banyak dari ’penderitaan’ yang dulu kita alami. Bentuk penderitaan memang macam-macam, bisa puasa,tirakat, tidak tidur, gak enak makan, tidak pacaran, menghindari berbohong, gak mau selingkuh, setia, tobat atau yang lain.
Rahasianya adalah tuhan mengabulkan doa orang yang ’teraniaya’. Dengan rasa sakit hati atau kondisi tidak enak, maka muncul hasrat yang kuat untuk mencapai sesuatu. Hasrat bergelora ini adalah energi yang besar sebagai bahan bakar yang lama habisnya sampai tujuan itu tercapai.
Dan Tuhan selalu menggantikan ’perasaan’ itu dengan hadiah yang menarik dan kejutan hidup yang bikin lidah ini enak makan tiwul. Tapi awas, jangan sampai setelah mendapat anugerah, kita terlena. Suatu saat jika waktunya, kenikmatan itu akan dicabut dan penyesalan selalu datang belakangan.
Jadi, spirit penderitaan itu boleh tetap menyala dan spirit kebahagiaan itu harus dipelihara.
Warung, kunci sukses dan bahagia
Warung memang banyak jenisnya, ada warung kopi, warung nasi, warung makan, warung ayam, warung sate, warung kaki lima, warung tempat praktek (pasien), warung besar / restoran atau waralaba. Tapi yang saya maksud adalah benar-benar warung asli jowo. Cirinya warungnya kecil, biasanya pinggir jalan (ya jelas,,,, kalau ditengah jalan pasti kamu tabrak ), sudah kuno / kurang terawat bangunannya, lantai bukan keramik, tidak ada plafon. Itu baru dari segi bangunan. (rumit amat !)
Meja kursi biasanya dari kayu dan gak pernah di lap. Lantai gak pernah disapu. (bukannya tidak pernah sama sekali, Cuma kelihatannya saja dan menurut pengamatanku).
Dari segi menunya gak rumit lho, Cuma kopi, teh, es teh, Eks....J..., Hema.... Jre...,( biar gak promosi) atau jahe, susu kalau ada. (juga bukan susu asli). Ada gorengan, gedang goreng, telo goreng, tempe goreng, tahu goreng. Ditambah nasi bungkus ringan (sego kucing, nasi hiks) atau nasi dengan menu pecel, sayur daun ketela, soto, atau mie rebus. Tidak pula sambel pedas dan krupuk. O.... ya.... gak pernah lupa tu rokok, terutama eceran. (yang ini menu wajib).
Kadang ada pesawat TV yang udah gak jelas gambarnya. (yang pasti gak ada pesawat telpon). Ada juga radio, permainan catur, kartu, karambol. Jangan harap ada karaoke.
Biasanya warung buka dari pagi sampai subuh (24 jam). Kalau di Ponorogo, gak sulit cari warung ini. Coba cari warung mbah doel di kidul lampu merah prapatan UNMUH / STAIN Ponorogo. Atau lor pasar legi, kiri jalan sebelum Apotek Puspa, depan RSU Darmayu, atau cari di gang-gang sempit di jalan kota Ponorogo. Gak akan sulit. Cuma, aku gak jamin mereka semua buka 24 jam, tergantung yang punya. Ada juga yang shift pagi saja atau malam saja. (mungkin ada yang kebelet butuh uang ada yang malas-malasan karena udah cukup bahagia).
Kalau di Pacitan, agak susah juga. Disini gak pantes pagi-pagi nongkrong di warung. Dikira gak diopeni bojone. Apalagi siang hari ke warung, bisa dikejar satpol PP karena melanggar jam dinas. Atau kalau malam hari, bakule wis ngantuk. (capek deh ..!) satu-satunya sering sering saya apeli, ya warung di depan Dinkes Utara. Itu karena lokasi strategis, agak tersembunyi, tenang, jauh dari Satpol PP, bisa nyambi ke bengkel atau setor laporan obat.
Harga dari menu makanan maupun minuman harusnya gak melebihi ¼ dolar. Jadi kadang bawa ceban (seribu), gopek (lima ratus) atau lima ribu udah kenyang. Bahkan gak bawa uang pun OK. (kalau gak malu). Kita bisa hutang tanpa jaminan dan prosedur yang rumit. Kalau kita bisa hutang, menurutku itu pertanda kita orang baik. Karena bisa dipercaya penjual warung.
Yang sudi datang ke warung bisa di survey, mayoritas anak sekolah, bapak-bapak tua, anak muda, pengangguran. Kalau di Ponorogo, semua kalangan pernah aku temui, dari PNS, pelajar, anak kuliah, anak kost, pengangguran, pengamen, tukang las, wiraswasta, bos, karyawan, kuli, orang kaya, orang setengah kaya, setengah miskin, pejabat atas maupun pejabat rendah. Jadi multi ras dan multi etnis. Asyik pokoke.
Ciri khas lain, biasanya bakule wis tuwek / tua, baik mbah kakung maupun putri. Jarang (bahkan belum aku jumpai) penjualnya cewek muda, manis, rambut panjang dan putih seperti Lu.... Ma.... Sorry, saya lupa. Pernah beberapa kali diajak temen di Ponorogo, tapi menurutku itu warung belum memenuhi syarat. Karena menunya cemoe dan bukanya malam hari saja. Lokasinya juga aneh gitu. Aku curiga..........(nanti ada yang penasaran)
Jadi kalau kita datang ke warung itu, yang menjadi prioritas kita adalah budaya dan alam ghoibnya. Kalau dari segi menu dan penjualnya, apalagi tempatnya, setan pun ogah mampir. ( sory mbah,,,, nggak ada maksud menghina. Cuma pembaca biar mantap). Kemanapun saya pergi ke suatu kota, pasti mencari tempat yang ideal seperti itu. Kecuali sama rombongan ibu-ibu pengajian atau rombongan kerja. Gak mungkin lah mengajak mereka mampir. Pasti ngajak ke Caref..... Atau plasa lain.
Mungkin sudah garis keturunan warok ponorogo atau salah asuhan, saya sejak muda dan menjelang tua selalu punya kontak dengan warung. Penggemar / teman saya pun biasanya ”kedanan” warung. Masak, sewaktu kerja di Ponorogo, baru bangun pagi sudah diajak ngopi diwarung. Habis itu ketemu teman lain menjelang kerja jam 7.00 wib, juga diajak mampir warung dulu. Sekitar jam 10.00 wib, ada musuh lama ngajak ke warung sebelah. Kalau nolak, mereka bilang aku sombong. (padahal tujuan ngajak, kadang-kadang mereka maunya ditraktir). Selepas jam 2.00 sambil nunggu pulang, di’paksa’ kewarung. Anehnya, malam hari, ada yang nelpon mau membicarakan ’bisnis” di warung. Itu masih jadwal yang resmi, belum kalau ada tamu dari ’luar negeri’ pasti mampir warung. Kecuali temenku yang tidak sealiran, tentu aku ajak ke rumah makan lain.
Setelah hijrah ke Pacitan, budaya itu mulai pupus. Bukan karena apa-apa. Ya karena gak ada warung yang cocok dan gak ada teman saja. Tapi hasrat tetap tinggi. Apalagi saya masih sering ke Ponorogo. Tiap hari temenku tanya kapan ke Ponorogo dan disuruh mampir. Aku jamin, pasti ujung-ujungnya ngajak ke warung. Karena sibuk dan waktu terbatas, kalau di Ponorogo aku njujug warung sendiri. Soalnya, kalau sama temenku bisa 4 jam gak keluar dari warung. Kalau sendiri paling lama setengah jam. (sorry bos.... gak ada maksud meninggalkanmu, Cuma suasana gak kondusif).
Hasrat itu mulai tersalurkan setelah mengenal warung Dinkes Utara ditambah angkringan (hiks) bocah klaten mulai banyak di Pacitan. Tapi kalau diwarung Dinkes Utara gak ada Dian dan Endro, rasa kopinya menjadi lain. Ada sedikit pahit dan getir. Ternyata mbahe bos warung itu pernah jadi tetanggaku. Maksudku pernah tinggal di dekat rumahku sewaktu aku masih di Ponorogo. Meskipun gak sempurna, warung itu lumayan untuk mengobati buntunya jalan pikiranku.
Dari pengamatanku selama menjelajahi dunia warung, orang datang ke warung kadang Cuma beli kopi cangkir kecil seharga 500 perak, satu batang rokok 500 rupiah, 1 gorengan 500 dolar jawa. Tapi, berjam-jam dia nongkrong disitu. Sampai-sampai, parkiran di depan warung penuh sesak. Memang sih kebanyakan yang ke warung itu berkelompok. Jarang sendirian (kecuali aku). Sambil ngobrol ngetan ngidul ngalor ngulon, atau main catur dulu.
Ternyata dari warung itu muncul ide-ide brilian. Banyak kasus yang saya tangani (koyok pengacara hotm... Pari.... saja), saya menemukan jalan keluar, mendapat wahyu, mendapat bisikan sewaktu di warung. Kebanyakan memang suasana warung tenang, aman dan gak masalah jika kita berjam-jam disitu. Gak akan diusir. Coba kita nongkrong Cuma beli es teh di restoran selama berjam-jam. Pasti langsung diusir. Bahkan kalau mau ngrewangi bakule isah-isah, kita gak perlu bayar.
Selain itu, jika kita punya musuh dan diajak ke warung, lama-lama permusuhan itu menjadi kendur dan musuh kita yang bayarin. Atau kalau kita kesepian, bakule akan rela menemani ngobrol. Atau kita menjumpai teman lama kita dari warung itu. Jadi setelah keluar warung, kita seperti keluar dari kamar mandi. Segar dan semangat baru. Jarang orang keluar warung kelihatan murung dan sedih. Biasanya dengan gagah berani, tertawa, membusungkan dada sambil menghisap rokok. (saya tidak merokok, tapi tidak pro perokok. Alias golput. Karena menamam tembakau adalah pekerjaan saya dulu. Hasilnya menguntungkan)
Pergi ke warung kita juga menggerakkan perekonomian negara. Mendukung sektor UMKM, membantu rakyat ’kecil” yang ditindas. Logikanya, kita membeli dagangan mereka, mereka untung, keluarga bisa sekolah dan jadi PNS. Coba gak ada yang mau ke warung, mereka mau disuruh kerja apa. Gak mungkin mengangkat mereka jadi honorer lagi.
Diwarung kita bisa membicarakan bisnis, usaha, pekerjaan, jodoh dan persoalan hidup lainnya. Negosiasi utang juga bisa di warung. Jual beli motor juga bisa dari warung. Mencari kerja juga bisa dari warung. Mengisi waktu libur juga bisa di warung. Pokoke bisa mendukung kesuksesan kita.
Kalau suntuk dan dirundung masalah, jangan takut ke warung. Datang saja, baik sendirian atau dengan teman. Disana akan ditemani banyak orang. Kalau malu curhat, gak usah disampaikan masalahmu. Cukup mendengarkan orang bicara, menikmati kopi, senyum sendiri dan mengamati keadaan. Bersyukurlah kita masih hidup dan ada teman hidup. Lihatlah sekitarnya yang bahagia tanpa syarat apapun. Setelah beberapa jam, keluarlah. Niscaya kamu bahagia.
Semoga pemerintah memperhatikan warung ini, memberi kredit tanpa bunga sehingga saya bisa bon tanpa bunga. Selain itu jangan sampai warung ini kena pajak seperti Pajak Warteg di Jakarta. Mengapa ? karena kalau kena pajak 10%, maka terjadi kenaikan harga. Imbasnya jumlah pembeli akan turun (karena mikir) dan saya juga mengurangi jatah ke warung.
Selain itu, harusnya pemilik warung ini diberi asuransi kesehatan supaya tetap sehat dan kuat bekerja. Kalau mereka sakit-sakitan, tentu menularkan ke pengunjung. Ya... to...!... (nalarmu apik le...). Terakhir, jangan digusur. Kebahagiaan dan kedamaian tidak mesti tinggal di gedung mewah, bagus, rapi, bersih. Kita bisa bahagia karena terpaksa dan gak berkhayal aneh-aneh
Kopi berbahaya bagi kesehatan ?
Bagi petualang dan orang ’warungan’, satu-satunya minuman paling dicari adalah kopi. Biasanya di daftar menu minuman, selalu ditaruh di atas sendiri. Kecuali pemiliknya punya penyakit darah tinggi, pastinya disembunyikan dibawah. Kalau gak menyediakan kopi, dipastikan warung itu gak bertahan lama (he...he...he.., gak mengancam, cuma maniak kopi pasti demo besar-besaran. Kopi dengan berbagai jenisnya tidak asing bagi lidah kita.
Dulu, memang suguhan favorit bagi tamu atau acara resmi biasanya memang kopi. Apakah itu kenduri, sholawatan, takbiran, ruwatan, sunatan, mantenan atau rapat. Setelah budaya minum air putih dalam kemasan menjadi trend, minum kopi mulai tidak ada di acara resmi, tetapi masih dilestarikan di lingkungan rumah dan warung. Mungkin karena ribet kalau bikin kopi, harus pakai air panas dan perlu gelas, sehingga orang sekarang pengennya mudah dan cepat. Padahal, kalau acara rapat dari pagi sampai sore, minumannya cuma air putih, apa tahan mata kita melek terus. Apalagi otak kita, pastinya gak fresh dan cenut-cenut.
Hal itu diperparah dengan nasehat para dokter kepada mbahe yang kena darah tinggi, nama baik kopi mulai menurun. “ mbah, apapun boleh minum kecuali kopi“, begitu pesan yang selalu diterima pasien darah tinggi. Orang kesehatan memang sering melakukan penelitian efek minum kopi dan menghubungkannya pada penyakit darah tinggi. Memang, mayoritas mengungkapkan minum kopi bisa meningkatkan tekanan darah. Dari sini, apa memang kopi memang berbahaya.
Tidak juga. Itu pendapat saya lho.....soalnya ada penelitian ’tandingan’, bahwa minum kopi rasa senang dan nyaman, meningkatkan semangat, mengurangi resiko batu pankreas. Trus bagaimana dong ? mana yang benar pendapatnya ?
Semuanya benar, bagi yang membenarkannya. Intinya adalah keseimbangan. Kalaupun minum kopi, ya jangan kebanyakan. Masak minum kopi 5 kali sehari, seperti mandi saja. (Bisa bikin kulit jadi hitam kali.....!). Atau jangan terlalu sedikit. Masa cuma sekali setahun. Boleh saja minum satu atau dua gelas sehari, yang penting jangan egois. Kalau minum kopi harus ada teman ngobrolnya. Kalau gak punya teman yang cocok dirumah, ya pergi ke warung..... dijamin pikiran padang. Ditambah bayarin teman yang minum kopi,tentu tambah padang dompet kita.
Tenang saja, belum ada dalil haram minum kopi. Karena memang tidak memabukkan. Kita perlu ingat pesan pakar kopi; minumlah sebelum haus dan berhentilah sebelum kenyang.
jadilah pemimpin yang mencintai rakyatnya
Pemerintahan kembang gula
Dalam pemerintahan periode pertama, telah banyak yang kau lakukan.Tetapi, hal itu tidak mengurangi sikap kritis kami sebagai rakyat. Ini adalah bukti cinta kami kepada Indonesia, bukan atas nama kebencian.
Dalam pemerintahan periode pertama, telah banyak yang kau lakukan.Tetapi, hal itu tidak mengurangi sikap kritis kami sebagai rakyat. Ini adalah bukti cinta kami kepada Indonesia, bukan atas nama kebencian.
- Kesederhanaan
Sebagai rakyat, kami sadar Indonesia adalah Negara makmur dan kaya potensi. Tetapi, setiap hari kami hidup dan melihat sendiri bagaimana rakyat masih banyak yang hidup miskin, sulit untuk mencari sesendok nasi, sulit mencari pekerjaan, sulit membeli susu untuk anaknya. Bahkan, perjuangan mencari uang kadang harus dilalui dengan nyawa melayang, mengorbankan keluarga. Bahkan, ada saudara kami rela bunuh diri karena putus asa menhadapi kesulitan ekonomi.
Kami mendambakan pemimpin yang sederhana, memberi contoh hidup sederhana dan toleransi melihat penderitaan orang lain. Setelah kami melihat para pejabat tinggi sampai daerah, semua itu tidak dapat kami temui dalam pejabat Indonesia. Gaji sangat tinggi, fasilitas mewah, tunjangan tinggi, mobil mewah terbaru, dan semua fasilitas lain. Bahkan setiap tahun, semua itu ditambah atas nama kerakusan.
Kami ingin Pak SBY memulai ini dan menularkannya kepada menteri dan pejabat lain. Lihat Negara lain, mereka berpakaian sederhana, gaji standar, mobil dinas hanya berharga 80 jutaan.
Kami lihat, kalau dibiarkan maka Rakyat Indonesia nantinya akan berhadapan, yaitu kemiskinan yang menyedihkan dan kekayaan yang melenakan. Nanti ada revolusi sosial rakyat berhadapan dengan pejabat.
- Ketegasan
Indonesia membutuhkan pemimpin yang tegas dan komunikatif. Kalau benar, kenapa takut. Terutama tegas kepada dunia internasional. Kami tidak ingin melihat Indonesia menjadi Negara terjajah secara ekonomi. Tidak ada gunanya merdeka jika Indonesia masih terjajah oleh ekonomi asing, atau bisa juga dijajah oleh pejabat Indonesia sendiri.
Saat ini sudah kami rasakan bahwa rakyat telah dijajah oleh pejabat, rakyat diperas ekonominya oleh pejabat dan konglomerat.
- Berpihak pada rakyat
Dulu, pejuang kemerdekaan adalah rakyat, mereka rela berkorban nyawa, harta dan apa saja yang mereka punya. Sekarang ini, tolong Pak SBY membela rakyat, kebijakan yang menguntungkan rakyat, hukum untuk keadilan rakyat.
Sekarang ini hukum berpihak pada penguasa, konglomerat, kepada uang. Kepada pejabat memang hukum harus tegas dan keras, tetapi kepada rakyat kecil tolong utamakan keadilan. Menyedihkan sekali, mencuri seharga 3000 rupiah dihukum 1 tahun, tetapi konglomerat atau pejabat yang korup di bela mati-matian.
- Nasionalisme
Indonesia adalah Negara dengan kekayaan laut dan darat yang mengagumkan. Berbagai bahan tambang, tanaman dan hewan berada di Indonesia. Namun sayang, tidak semua potensi dapat digunakan untuk kemakmuran rakyat. Yang lebih menyedihkan adalah, kekayaan itu dijual ke pihak asing dengan harga murah karena pejabat tertentu mendapat keuntungan. Praktek ini telah lama berlangsung hingga kekayaan itu habis.
Atas nama kapitalis dan ekonomi global, Indonesia terlalu mudah didekte oleh negara lain. Pejabat negara adalah pengkhianat bagi rakyatnya. Kami menunggu tindakan Pak SBY dalam mengatasi hal ini, tetapi selama pemerintahannya ternyata tidak dilakukan. Menyedihkan sekali.
Hal itu sebagian kritik kepada SBY, semoga menjadi kesadaran seluruh bangsa.
RAHASIA KAYA
Kerja keras, tetapi gak perlu ngoyo. Dalam setiap kesempatan, baik siang atau malam, kalau memang harus bekerja kita harus bereskan pekerjaan itu. Tidak peduli ada teman atau tidak. Kerjakan dengan sungguh-sungguh dan santai saja. Semua akan lancar, meskipun ada satu atau dua hal yang lupa dikerjakan. Tetapi kerjakan terus.
Jangan kerjakan sendiri semua pekerjaan. Kita bukan manusia super. Kita hanya dibekali kelebihan pada satu atau dua sisi, gak mungkin pada semua sisi. Jadi kita perlu teman atau karyawan. Selain itu kita juga bisa santai.
Jangan hanya mengerjakan satu pekerjaan dalam satu waktu. Usahakan punya banyak pekerjaan. Banyak kerja banyak penghasilan. Aturlah waktu dengan baik. Sambil minum kita makan.
politisi 2 muka
Menurut para ahli, manusia punya dua wajah. Wajah umum dan wajah pribadi. Wajah umum akan ditampilkan pada saat berhadapan dengan orang, massa, pendukung atau masyarakat. Wajah pribadi akan dipakai sewaktu sendiri, bersama keluarga inti atau dalam lingkungan pribadi.
Politisi seringkali harus menampilkan wajah umum dan akting di depan media untuk mendapatkan citra positif. Mereka kelihatan peduli, toleran, memihak rakyat, sederhana, jujur dan bersih. Akan tetapi kita kecewa setelah menguak gaya hidupnya yang berfoya-foya, berkelas, rakus, egoistik dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan tujuan dan uang. Sehingga tidak salah masyarakat menjadi pesisimis.
Bukan program / cita indah mereka dipilih, tapi acting. Yang penting bagi-bagi rejeki. Apa yang diperjuangkan benar, bukan dimanipulasi media. Perjuangan politik juga harus mendapat dukungan media. Politisi dan selebriti sangat mirip bahkan sulit sekali mencari perbedaannya. Adegan yang ditampilkan politisi di televisi, seringkali membuat rakyat jenuh.
Pekerjaan politisi adalah mengelola kesan / impression managemen. Kesan apa yang akan diambil itulah yang akan dilakukan politisi.
Hubungan antara media dan politisi seperti dua sejoli. Penampilan lewat media lebih utama daripada melalui peduli pada petani. Hal itu untuk meningkatkan popularitas yang bersangkutan. Apalagi moment live di televisi. Yang ditunggu publik bukan hanya itu, tapi apa yang telah dan akan dilakukan.
Politisi ingin menunjukkan ingin peduli pada nasib bangsa. Pada kenyataanya belum tentu dan ditentukan oleh keputusan politisi untuk kepentingan umum.
Hubungan yang ideal antara rakyat dan media adalah hubungan yang kondusif bagi demokrasi. Media menjadi pengamat atau pengawas. Media mewakili rakyat mengawasi eksekutif, yudikatif.
Media memberi the second hand reality. Realita yang sudah diolah media. Politisi menjadi alat propanda efektif bagi politisi.
Dulu politisi dipilih karena karyanya. Karya besar bung karya, rakyat bangga menjadi bangsa merdeka dan memimpin Negara asia afrika merdeka.
Dulu idealisme sangat menonjol. Sekarang campur pragmatis,lebih ke kursi parlemen.
Dulu politisi bukan strata ekonomi. Dulu sederhana. Dulu tidak malu, bangga, karena jerih payah sendiri, halal.
Sekarang tidak ada. Sekarang politisi dicitrakan kaya, mapan, rumah mewah, sering ke kafe, menginap di hotel mewah, mobil mewah dan populer. Sedangkan karya mereka, sumbangan mereka, prestasi maupun kemampuan mereka tidak penting dan tidak dipedulikan.
Hal itu bisa dimaklumi, karena mereka dipilih tidak semata-mata karena kemampuan atau prestasi politisi. Mereka dipilih lebih dikarenakan banyak uang atau karena dekat dengan orang besar. Ini kadang sulit dibuktikan, tapi lebih banyak pada kenyataan.
Sudah saatnya sekarang lebih cerdas lagi. Jangan mau ditipu atau dimanfaatkan untuk kepentingan jangka pendek. Memang uang sekarang ini di’tuhan’kan. Tetapi dalam memilih politisi, masyarakat harus benar-benar selektif supaya aspirasi mereka diakomodir dan tidak ditipu lagi. Orang bijak selalu belajar dari masa lalu dan tidak mau mengulangi kesalahan yang sama.
ARTI PEREMPUAN BAGI LAKI-LAKI
AN Dia yang diambil dari tulang rusuk. Jika Tuhan memersatukan dua orang
yang berlawanan sifatnya, maka itu akan menjadi saling melengkapi.
Dialah penolongmu yang sepadan, bukan lawan yang sepadan. Ketika
pertandingan dimulai, dia tidak berhadapan denganmu untuk melawanmu,
tetapi dia akan berada bersamamu untuk berjaga-jaga di belakang saat
engkau berada di depan, atau segera mengembalikan bola ketika bola itu
terlewat olehmu, dialah yang akan menutupi kekuranganmu.
Dia ada untuk melengkapi yang tak ada dalam laki-laki : perasaan, emosi,
kelemahlembutan, keluwesan, keindahan, kecantikan, rahim untuk
melahirkan, mengurusi hal-hal yang kadang dianggap sepele.
Hingga ketika kau tidak mengerti hal-hal itu, dialah yang akan
menyelesaikan bagiannya. Sehingga tanpa kau sadari ketika menjalankan
sisa hidupmu... kau menjadi lebih kuat karena kehadirannya di sisimu. Jika
ada makhluk yang sangat bertolak belakang, kontras dengan lelaki, itulah
perempuan. Jika ada makhluk yang sanggup menaklukkan hati hanya dengan
sebuah senyuman, itulah perempuan.
Ia tidak butuh argumentasi hebat dari seorang laki-laki, tetapi ia butuh
jaminan rasa aman darinya karena ia ada untuk dilindungi, tidak hanya
secara fisik tetapi juga emosi. Ia tidak tertarik kepada fakta-fakta yang
akurat, bahasa yang teliti dan logis yang bisa disampaikan secara detail
dari seorang laki-laki, tetapi yang ia butuhkan adalah perhatiannya, kata-
kata yang lembut, ungkapan-ungkapan sayang yang sepele, namun baginya
sangat berarti, membuatnya aman di dekatmu.
Batu yang keras dapat terkikis habis oleh air yang luwes, sifat laki-laki
yang keras ternetralisir oleh kelembutan perempuan. Rumput yang lembut
tidak mudah tumbang oleh badai dibandingkan dengan pohon yang besar
dan rindang, seperti juga di dalam kelembutannya di situlah terletak
kekuatan dan ketahanan yang membuatnya bisa bertahan dalam situasi
apapun.
Ia lembut bukan untuk diinjak, rumput yang lembut akan dinaungi oleh
pohon yang kokoh dan rindang. Jika lelaki berpikir tentang perasaan
perempuan, itu sepersekian dari hidupnya. Tetapi jika perempuan berpikir
tentang perasaan lelaki, itu akan menyita seluruh hidupnya.
Karena perempuan diciptakan dari tulang rusuk laki- laki, karena
perempuan adalah bagian dari laki-laki, apa yang menjadi bagian dari
hidupnya, akan menjadi bagian dari hidupmu. Keluarganya akan menjadi
keluarga barumu, keluargamu pun akan menjadi keluarganya juga. Sekalipun
ia jauh dari keluarganya, namun ikatan emosi kepada keluarganya tetap ada
karena ia lahir dan dibesarkan di sana. Karena mereka, ia menjadi seperti
sekarang ini. Perasaannya terhadap keluarganya, akan menjadi bagian dari
perasaanmu juga, karena kau dan dia adalah satu, dia adalah dirimu yang
tak ada sebelumnya.
Ketika pertandingan dimulai, pastikan dia ada di bagian lapangan yang sama
denganmu.
yang berlawanan sifatnya, maka itu akan menjadi saling melengkapi.
Dialah penolongmu yang sepadan, bukan lawan yang sepadan. Ketika
pertandingan dimulai, dia tidak berhadapan denganmu untuk melawanmu,
tetapi dia akan berada bersamamu untuk berjaga-jaga di belakang saat
engkau berada di depan, atau segera mengembalikan bola ketika bola itu
terlewat olehmu, dialah yang akan menutupi kekuranganmu.
Dia ada untuk melengkapi yang tak ada dalam laki-laki : perasaan, emosi,
kelemahlembutan, keluwesan, keindahan, kecantikan, rahim untuk
melahirkan, mengurusi hal-hal yang kadang dianggap sepele.
Hingga ketika kau tidak mengerti hal-hal itu, dialah yang akan
menyelesaikan bagiannya. Sehingga tanpa kau sadari ketika menjalankan
sisa hidupmu... kau menjadi lebih kuat karena kehadirannya di sisimu. Jika
ada makhluk yang sangat bertolak belakang, kontras dengan lelaki, itulah
perempuan. Jika ada makhluk yang sanggup menaklukkan hati hanya dengan
sebuah senyuman, itulah perempuan.
Ia tidak butuh argumentasi hebat dari seorang laki-laki, tetapi ia butuh
jaminan rasa aman darinya karena ia ada untuk dilindungi, tidak hanya
secara fisik tetapi juga emosi. Ia tidak tertarik kepada fakta-fakta yang
akurat, bahasa yang teliti dan logis yang bisa disampaikan secara detail
dari seorang laki-laki, tetapi yang ia butuhkan adalah perhatiannya, kata-
kata yang lembut, ungkapan-ungkapan sayang yang sepele, namun baginya
sangat berarti, membuatnya aman di dekatmu.
Batu yang keras dapat terkikis habis oleh air yang luwes, sifat laki-laki
yang keras ternetralisir oleh kelembutan perempuan. Rumput yang lembut
tidak mudah tumbang oleh badai dibandingkan dengan pohon yang besar
dan rindang, seperti juga di dalam kelembutannya di situlah terletak
kekuatan dan ketahanan yang membuatnya bisa bertahan dalam situasi
apapun.
Ia lembut bukan untuk diinjak, rumput yang lembut akan dinaungi oleh
pohon yang kokoh dan rindang. Jika lelaki berpikir tentang perasaan
perempuan, itu sepersekian dari hidupnya. Tetapi jika perempuan berpikir
tentang perasaan lelaki, itu akan menyita seluruh hidupnya.
Karena perempuan diciptakan dari tulang rusuk laki- laki, karena
perempuan adalah bagian dari laki-laki, apa yang menjadi bagian dari
hidupnya, akan menjadi bagian dari hidupmu. Keluarganya akan menjadi
keluarga barumu, keluargamu pun akan menjadi keluarganya juga. Sekalipun
ia jauh dari keluarganya, namun ikatan emosi kepada keluarganya tetap ada
karena ia lahir dan dibesarkan di sana. Karena mereka, ia menjadi seperti
sekarang ini. Perasaannya terhadap keluarganya, akan menjadi bagian dari
perasaanmu juga, karena kau dan dia adalah satu, dia adalah dirimu yang
tak ada sebelumnya.
Ketika pertandingan dimulai, pastikan dia ada di bagian lapangan yang sama
denganmu.
KEDANAN, SUPAYA KEBAGIAN
Sulit sekali bikin judul yang mewakili isi tulisan ini. Tidak semudah menjelaskan makna kedanan itu sendiri. Kedanan berasal dari Bahasa Jawa, “edan” yang bermakna gila, gendeng, sakit jiwa, lupa diri. Ditambah imbuhan ’ke’ didepannya, menjadi ”kedanan” yang berarti senang berlebihan, mencintai melebihi dosis atau gandrung (istilah apa lagi ini... he. He he..). Memang kalau gak keturunan raja-raja jawa kuno, agak susah memahami bahasa ini.
Meski kita lahir, hidup dan bergaul di tanah jawa, kita lebih fasih Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris atau Bahasa Arab. Saking fasih-nya, kalau gak mengucapkan : OK, FB, OL,ML, CD, CD, PC, NB kita ketinggalan jaman alias kuno bin rombeng.
Sudahlah, gak perlu membahas tema itu. Gak ada yang bayar. Mending kita bahas judul diatas. Sudah lama ada istilah : jaman edan, kalau gak edan ora keduman. Meski begitu, apakah yang membuat istilah itu pernah edan ? apalagi yang ikut aliran itu. Setelah lama saya hidup dan mengamati keadaan sekitar, kadang muncul pertanyaan yang mendasar. Siapa sebenarnya orang edan itu ?
Apalagi sewaktu ngopi diwarung depan Dinkes Utara plus ngobrol ngetan ngulon sama Dian dan Endro. Bisa-bisa pikiran tambah munyeng. Aku penasaran juga. Mereka berdua itu kategori mana ya. Coba bantu aku menganalisa mereka berdua.
Kita lihat Dian dulu. Sosok pejuang dari timur ini memang sudah teruji ketangguhan dan daya tahan tubuhnya. Tidak mudah sakit, tidak mudah mengantuk, tidak mudah menangis, tidak mudah marah, tidak mudah tidur, tidak mudah lelah. Sebaliknya, Dian mudah kalau diajak makan diwarung, mudah merokok, mudah minum kopi, mudah ditanya komputer. Dimanapun dan kapanpun ada kerusakan komputer, dian selalu ready. masalah internet, jaringan, Komputer, printer, dll pasti dijawabnya. Entah itu benar atau salah, aku manggut-manggut saja. aku penasaran, apa dian kedanan ? kalau ya, dia kedanan apa ? masak komputer bisa bikin edan.
Satu lagi si Endro, sosok satu ini sudah terkenal dalam dunia telematika. Meskipun, dari kacamata media kurang popular dibanding Roy Suryo-no (mantri puskesmas tanjung). …he he …jangan marah om, cuma nyubit. Tapi dari teori, penalaran, logika, kesabaran, kejelian dan dedikasi patut diacungi jempul (kaki). Bagaimana tidak …!!! Simpus yang berasal dari ngawi, bisa rubah total seakan-akan Simpus asli Pacitan.
Bahkan orang Ngawi (Pak Sipur dan Pak Sanusi) sampai lupa. Padahal gurunya sangat mahir dan jago dan tidak menurunkan semua ilmunya pada Endro. Kalau mau jujur, salah satu murid teladan ya Endro ini. Melebihi kemampuan mahagurunya. Kalau di persentase, 99 % Simpus Pacitan itu modifikasi Endro, sisanya 1 % warisan yang gak bisa dirubah dari Ngawi. Memang aneh Pak Sanusi, sebagai guru kok tega-teganya menyembunyikan satu password sehingga Simpus Pacitan kalau dirubah jadi simpus nama lain (contoh=’ngayogyokarto’) tidak mau jalan. Gak apa-apalah, namanya guru biasanya selangkah lebih maju.
Ini bukti ke-ampuh-an Endro. Penggabungan simpus di puskesmas, laporan puskesmas, MTBS, menu riwayat penyakit dan penggabungan simpus di tingkat kabupaten, bisa dipastikan lebih sempurna dari Simpus Ngawi (sory Pak Pur dan Pak Sanusi, maksudnya paling sesuai kebutuhan Pacitan). Endro ini juga aku ragukan, apa termasuk kedanan. Soalnya, setiap aku minta perubahan simpus, selalu bisa dipenuhi dengan cepat dan tepat. Kapan dia tidurnya ya… ?
Kita sudahi saja membahas dua manusia itu. Takut menggangu privasi dan proyek pribadi. Kita mulai pengembaraan ini di obyek lain. Kedanan ini mungkin juga menjangkiti senior dan juniorku. Ada satu kisah menarik. Oknum ini sudah mau pensiun, sudah baranak cucu, sudah beruban, sudah gemetar jika melihat Syahrini. Tapi sejak punya hp baru dan sudah menguasainya, dia hampir tiap hari menelepon dan ditelepon. Tidak pernah sekalipun menerima dan mengirim sms ( karena memang tidak bisa !!).
Jadi, pagi-pagi sekali dikantor sudah pegang telpon di tangan kiri dan dipasang ditelinga kiri sambil menulis laporan. Beberapa jam kemudian keluar di parkiran, tidak lupa menelepon sambil pegang stir sepeda motor. Setelah itu keliling desa. Pulang dari desa, di parkiran menerima telpon, bicara sendiri entah dengan siapa telpon. Setelah itu sambil membereskan tas dan buku, tetap memegang telpon dan bicara sendiri. Sesekali nyletuk dan bicara dengan temannya, tanpa memutus telponnya. Agak siang, sewaktu temannya mau pulang, dengan tetap menelepon, dia mengunci pintu dan mengembalikan kunci. Itu berlangsung berhari-hari bahkan berbulan bulan. Sampai-sampai ada yang bertanya, dengan siapa dia menelepon. Tentu saja tidak dijawab dengan jujur. Cuma senyum kecil plus jawaban standar. Tapi begitu, ada istilah : meskipun ora, tetep wae diarani. (artinya = meskiupun tidak melakukan apa-apa atau kesalahan, tetap saja di tuduh atau didakwa). Jadi temennya tetap saja menganggap dia punya selingkuhan.
Ada lagi yang kedanan mobil. Setelah membeli mobil untuk pertama kali, ada yang rela tidur di mobil karena kedanan dan senang sekali. Ada juga yang rela panas dan hujan membuat kandang ayam. Ada yang rela malam hari badminton meskipun istrinya tidur sendirian.
Meskipun dari fenomena itu kelihatan wajar dan menyenangkan, tapi ada sisi aneh juga. Contohnya, cowok ini sudah mapan dan bahagia. Masih muda pula. Punya anak dan istri. Uang menumpuk dan bisnis OK. Ilmu dan pengalaman OK. Tidak ada masalah yang berarti. Tiba-tiba, dia kedanan cewek lain yang statusnya gak jauh beda. Apapun diberikan, kapanpun dilayani dan berapapun harganya dibayar (bukan jual beli lo…). Aku piker, kalau ini kategorinya apa ya… kedananan atau pura-pura waras ?
Setelah aku jelajahi internet dan buku-buku membahas orang besar dan sukses, rata-rata mereka memang ‘gila’. Bahkan Purdi E Chandra sampai menulis buku tentang “Cara Gila Jadi Pengusaha”. Ternyata kedanan ini bikin orang tidak suka tidur, bikin kreatif, bikin semangat, bikin orang berani, menemukan jalan keluar dan ujung-ujungnya bikin orang “sukses”. Maksudnya sukses dalam arti sebenarnya maupun sukses “berantakan”.
Trus, apa ke-waras-an (tidak kedanan) tidak bikin orang sukses ? tentu saja tidak demikian. Dalam dunia ketidak pastian ini, selalu ada pengecualian. Jadi, orang yang kuat adalah yang bisa menyesuaikan diri. Termasuk bisa kedanan atau kewarasan. Cuma, mayoritas (kira-kira 99% kedanan menyumbang sukses terbanyak). Sekarang tinggal kita sebagai manusia lumrah, wajib memilih supaya tidak dipilihkan orang lain. Kalau kita yang milih, meskipun salah, kita tetap bangga. Ya gak ? (….menyesal kemudian / urusan belakangan ..)
Meski kita lahir, hidup dan bergaul di tanah jawa, kita lebih fasih Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris atau Bahasa Arab. Saking fasih-nya, kalau gak mengucapkan : OK, FB, OL,ML, CD, CD, PC, NB kita ketinggalan jaman alias kuno bin rombeng.
Sudahlah, gak perlu membahas tema itu. Gak ada yang bayar. Mending kita bahas judul diatas. Sudah lama ada istilah : jaman edan, kalau gak edan ora keduman. Meski begitu, apakah yang membuat istilah itu pernah edan ? apalagi yang ikut aliran itu. Setelah lama saya hidup dan mengamati keadaan sekitar, kadang muncul pertanyaan yang mendasar. Siapa sebenarnya orang edan itu ?
Apalagi sewaktu ngopi diwarung depan Dinkes Utara plus ngobrol ngetan ngulon sama Dian dan Endro. Bisa-bisa pikiran tambah munyeng. Aku penasaran juga. Mereka berdua itu kategori mana ya. Coba bantu aku menganalisa mereka berdua.
Kita lihat Dian dulu. Sosok pejuang dari timur ini memang sudah teruji ketangguhan dan daya tahan tubuhnya. Tidak mudah sakit, tidak mudah mengantuk, tidak mudah menangis, tidak mudah marah, tidak mudah tidur, tidak mudah lelah. Sebaliknya, Dian mudah kalau diajak makan diwarung, mudah merokok, mudah minum kopi, mudah ditanya komputer. Dimanapun dan kapanpun ada kerusakan komputer, dian selalu ready. masalah internet, jaringan, Komputer, printer, dll pasti dijawabnya. Entah itu benar atau salah, aku manggut-manggut saja. aku penasaran, apa dian kedanan ? kalau ya, dia kedanan apa ? masak komputer bisa bikin edan.
Satu lagi si Endro, sosok satu ini sudah terkenal dalam dunia telematika. Meskipun, dari kacamata media kurang popular dibanding Roy Suryo-no (mantri puskesmas tanjung). …he he …jangan marah om, cuma nyubit. Tapi dari teori, penalaran, logika, kesabaran, kejelian dan dedikasi patut diacungi jempul (kaki). Bagaimana tidak …!!! Simpus yang berasal dari ngawi, bisa rubah total seakan-akan Simpus asli Pacitan.
Bahkan orang Ngawi (Pak Sipur dan Pak Sanusi) sampai lupa. Padahal gurunya sangat mahir dan jago dan tidak menurunkan semua ilmunya pada Endro. Kalau mau jujur, salah satu murid teladan ya Endro ini. Melebihi kemampuan mahagurunya. Kalau di persentase, 99 % Simpus Pacitan itu modifikasi Endro, sisanya 1 % warisan yang gak bisa dirubah dari Ngawi. Memang aneh Pak Sanusi, sebagai guru kok tega-teganya menyembunyikan satu password sehingga Simpus Pacitan kalau dirubah jadi simpus nama lain (contoh=’ngayogyokarto’) tidak mau jalan. Gak apa-apalah, namanya guru biasanya selangkah lebih maju.
Ini bukti ke-ampuh-an Endro. Penggabungan simpus di puskesmas, laporan puskesmas, MTBS, menu riwayat penyakit dan penggabungan simpus di tingkat kabupaten, bisa dipastikan lebih sempurna dari Simpus Ngawi (sory Pak Pur dan Pak Sanusi, maksudnya paling sesuai kebutuhan Pacitan). Endro ini juga aku ragukan, apa termasuk kedanan. Soalnya, setiap aku minta perubahan simpus, selalu bisa dipenuhi dengan cepat dan tepat. Kapan dia tidurnya ya… ?
Kita sudahi saja membahas dua manusia itu. Takut menggangu privasi dan proyek pribadi. Kita mulai pengembaraan ini di obyek lain. Kedanan ini mungkin juga menjangkiti senior dan juniorku. Ada satu kisah menarik. Oknum ini sudah mau pensiun, sudah baranak cucu, sudah beruban, sudah gemetar jika melihat Syahrini. Tapi sejak punya hp baru dan sudah menguasainya, dia hampir tiap hari menelepon dan ditelepon. Tidak pernah sekalipun menerima dan mengirim sms ( karena memang tidak bisa !!).
Jadi, pagi-pagi sekali dikantor sudah pegang telpon di tangan kiri dan dipasang ditelinga kiri sambil menulis laporan. Beberapa jam kemudian keluar di parkiran, tidak lupa menelepon sambil pegang stir sepeda motor. Setelah itu keliling desa. Pulang dari desa, di parkiran menerima telpon, bicara sendiri entah dengan siapa telpon. Setelah itu sambil membereskan tas dan buku, tetap memegang telpon dan bicara sendiri. Sesekali nyletuk dan bicara dengan temannya, tanpa memutus telponnya. Agak siang, sewaktu temannya mau pulang, dengan tetap menelepon, dia mengunci pintu dan mengembalikan kunci. Itu berlangsung berhari-hari bahkan berbulan bulan. Sampai-sampai ada yang bertanya, dengan siapa dia menelepon. Tentu saja tidak dijawab dengan jujur. Cuma senyum kecil plus jawaban standar. Tapi begitu, ada istilah : meskipun ora, tetep wae diarani. (artinya = meskiupun tidak melakukan apa-apa atau kesalahan, tetap saja di tuduh atau didakwa). Jadi temennya tetap saja menganggap dia punya selingkuhan.
Ada lagi yang kedanan mobil. Setelah membeli mobil untuk pertama kali, ada yang rela tidur di mobil karena kedanan dan senang sekali. Ada juga yang rela panas dan hujan membuat kandang ayam. Ada yang rela malam hari badminton meskipun istrinya tidur sendirian.
Meskipun dari fenomena itu kelihatan wajar dan menyenangkan, tapi ada sisi aneh juga. Contohnya, cowok ini sudah mapan dan bahagia. Masih muda pula. Punya anak dan istri. Uang menumpuk dan bisnis OK. Ilmu dan pengalaman OK. Tidak ada masalah yang berarti. Tiba-tiba, dia kedanan cewek lain yang statusnya gak jauh beda. Apapun diberikan, kapanpun dilayani dan berapapun harganya dibayar (bukan jual beli lo…). Aku piker, kalau ini kategorinya apa ya… kedananan atau pura-pura waras ?
Setelah aku jelajahi internet dan buku-buku membahas orang besar dan sukses, rata-rata mereka memang ‘gila’. Bahkan Purdi E Chandra sampai menulis buku tentang “Cara Gila Jadi Pengusaha”. Ternyata kedanan ini bikin orang tidak suka tidur, bikin kreatif, bikin semangat, bikin orang berani, menemukan jalan keluar dan ujung-ujungnya bikin orang “sukses”. Maksudnya sukses dalam arti sebenarnya maupun sukses “berantakan”.
Trus, apa ke-waras-an (tidak kedanan) tidak bikin orang sukses ? tentu saja tidak demikian. Dalam dunia ketidak pastian ini, selalu ada pengecualian. Jadi, orang yang kuat adalah yang bisa menyesuaikan diri. Termasuk bisa kedanan atau kewarasan. Cuma, mayoritas (kira-kira 99% kedanan menyumbang sukses terbanyak). Sekarang tinggal kita sebagai manusia lumrah, wajib memilih supaya tidak dipilihkan orang lain. Kalau kita yang milih, meskipun salah, kita tetap bangga. Ya gak ? (….menyesal kemudian / urusan belakangan ..)
MASIHKAH KITA PERCAYA KOMPUTER ?
Kalau judul diatas diganti “Masihkah Kita Percaya Manusia ?”, kita masih bisa menjawab fifty-fifty alias imbang tanpa gol. Karena manusia memang dibekali Tuhan sifat baik dan sifat jahat. Tapi kalau diganti “Masihkah Kita Percaya Manusia Indonesia ?”, kita butuh waktu berjam-jam bahkan mungkin minta perpanjangan waktu untuk bersuara jujur. Tapi, jangan berani mengganti judul menjadi “Masihkah Kita Percaya Pada Diri Kita Sendiri ?”. Mengapa ? Karena kita mewarisi sifat mudah tersinggung, merasa benar sendiri, merasa pintar sendiri, sukar mendengar nasehat dan pintar bicara. Apalagi mencari alasan, kita punya sejuta alasan untuk lari dari tanggung jawab.
Lupakan sejenak ganti-mengganti judul diatas. Kita kaji di lain waktu ya ? (emangnya punya waktu, apa hanya alasan karena gak mampu). Lebih relaks dan tidak menyinggung bangsa manusia, kita gak ganti judulnya. Oke ?. ”Pintar, ...memang kadang kita mesti nuruti kemauan orang supaya kemauan kita nanti juga keturutan”, ini wasiat suci mbah doel, pemilik ’waralaba’ warung di Ponorogo yang omzet per tahun miliaran rupiah (semua). Jadi judulya : Masihkah kita percaya komputer ?
Sejak ditemukan oleh penemunya (jangan GR, bukan Pak De mu), perkembangan teknology komputer sangat pesat melebihi ramalan wajar akal manusia. Dari komputer tua berukuran raksasan sampai microcomputer sekarang, tiap detik ada kemajuan dan perubahan. Kadang-kadang saya juga heran, ini yang pinter manusia yang bikin komputer atau memang dasar komputernya yang hebat. Sampai-sampai sekarang ada usaha menyambungkan kemauan manusia di otak melalui syaraf motorik ke tangan buatan manusia. Dan relatif berhasil. Ada lagi yang aneh-aneh, robot pembantu atau robot wanita cantik. (Nah..ini baru menarik, karena robot manut, nurut gak banyak nuntut). Awas...! Kita membicarakan bangsa komputer, bukan bangsa kita. Jadi jangan tersinggung.
Anehnya, tidak pernah kita mimpi dan ramalkan, ternyata komputer membanjiri kehidupan kita seperti tsunami kecil yang gak bahaya. Sedikit demi sedikit kita dituntut menyentuh keyboard komputer. Mata kita dipaksa mlototin (artinya=membuka mata lebar-lebar biar jelas) layar datar komputer. Kita dipaksa membuat laporan dengan komputer. Bahkan, baru-baru ini, dengan bangga Dinas Kesehatan Pacitan membuat kebijakan ’Laporan Puskesmas bisa melalui email’.
Kalau mendengar berita ini siapa yang gak semaput (pingsan). Itu ide gila (kata Purdi E Chandra, Pendiri Primagama) atau mimpi siang bolong ?. Jangankan tahu email, lha wong istilah komputer, printer, simpus, jaringan, sistem operasi atau istilah rumit bagi orang puskesmas di pacitan belum sepenuhnya mudeng (paham). Apalagi yang kemarin masih ada masalah jaringan dan simpus yang jalan ditempat, gak kuat dan gak tahan kalau diajak mikir yang lain. Tapi itulah hidup. Memang diluar dugaan. Seperti kekalahan ’menyakitkan’ Indonesia dengan saudara ’nakal’ nya Malaysia. (skor gak perlu disebut ya, gak sopan). Belum selesai satu masalah, daftar tunggu masalah lain juga antri untuk kita selesaikan. Bisa runyam jika masalah itu gak manut jadwal, bisa seperti antrean beli tike final AFF di Gelora Bung Karno. (mengapa sifat-sifat ini tidak jauh beda dengan kita ya, menurut anda wajar gak ?)
Mau laporan lewat email, lewat CD, lewat tulisan tangan atau lewat udara gak masalah. (kecuali kita bikin masalah). Semuanya bisa dipesan dan diatur. Yang penting kan laporan benar, tepat waktu, murah dan mudah. Kita kadang banyak debat gak karuan, padahal intinya kita itu malas berubah dan takut kemajuan ( takut kita gak bisa mengikuti ). Kalau urusan dana atau anggaran, masih pantaskah negara kaya ini gak mampu membiayai proyek kecil itu ?.
Yang mau kita dalami adalah apakah komputer itu bisa dipercaya ?. ”Emangnya kenapa mas ?” tanya Adit tiap dia pengen tahu. Aku juga pusing jika Adit bertanya. Mengapa dia tanya padaku. Mengapa tidak tanya pada rumput yang bergoyang ?. Apa yang harus aku jawab. Apa setiap pertanyaan harus ada jawabannya ?. (Sorry Dit....., cuma iseng. Biar kelihatan mikir). Aku baru sadar sekarang. Sifat Adit yang suka bertanya padaku adalah hukum karma bagiku. Lho... apa hubungannya kek ? ( KEK adalah panggilan ’mesra’ temanku di Ponorogo, khususnya Toriq di RSU Darmayu . Kek dipopulerkan sejak muda sewaktu sama-sama ’mondok’ di Jl. Kalimantan. Kalau ketemu teman, kita selalu menyebut KEK, seperti istilah MAS, DOEL, BOS, CAH,dll ). Sewaktu aku ’kedanan’ komputer waktu dulu, aku juga rajin bertanya pada ’pakar’ komputer bernama Imron, anak Pandeglang.
”Lanjut gak ?” Ok, kita lanjutkan.
Ternyata setelah mengenal komputer khususnya simpus sejak 2 tahun lalu, kita telah mengalami banyak kejadian, yang baik maupun buruk, yang menyenangkan maupun menyedihkan, maupun kejadian yang tidak kita ketahui. (kebanyakan kita cuek karena tidak menambah uang dapur dan merepotkan). Semua kejadian itu bagi yang mau berfikir akan diambil pelajaran untuk melangkah masa depan. ”Mantap Mas ”, kata Adit again. (mengapa Adit selalu muncul, kenapa gak yang lain ?). Sebenarnya saya mau menyebut yang lain, cuma belum dapat ijin dan takutnya nanti minta royalty.
Kalau kejadian baik, itu kurang menarik dipelajari oleh para kritikus termasuk yang nulis ini. (he.... he... he..... akhirnya ngaku juga). Yang menarik adalah bencana yang datang bertubi-tubi di puskesmas setelah simpus diterapkan. Memang sih, gak jauh dari budaya bangsa kita, sedang panen bencana. Mulai dari tagihan listrik mendadak naik, jaringan gak konek, server mati, PC Net rusak, kabel dimakan tikus, mouse gak jalan, lupa pasword, printer ngadat atau berjuta masalah lain. Kemudian internet belum jalan, modem gak jalan, gak ada sinyal, gak ada speedy, bayar internet mahal dan akses internet lambat. Alhamdulillah, sudah banyak masalah kita hadapi dengan tegar dan sabar.
Dibalik semua itu, ada menu simpus yang menarik. Yaitu menu : Laporan. Berbagai macam kebutuhan dan laporan sudah ada disitu. Ada laporan bulanan, harian, berdasarkan cara bayar atau wilayah. Secara umum sudah komplit. Cuma ada perbaikan untuk memenuhi kebutuhan laporan yang selalu berkembang. Yang bikin saya tenang, mas Indro selalu siap memperbaiki menu tersebut.
Jika kita amati, inti dari persoalannya adalah data komputer ini bisa dipercaya gak ? Apakah angka-angka yang muncul ini sudah benar ? Apakah data dikomputer ini tidak hilang ? Apa data bisa berubah ?. Pertanyaan ini tentu baik, cuma jawabannya bisa beragam. Kita juga bebas memilih dari beberapa jawaban yang cocok dengan kita.
Kalau komputer secara fisik rusak, tidak ada yang bisa menjawab kapan rusaknya. Bisa besok atau tahun depan. Tidak bisa diramal. Yang bisa kita upayakan adalah menjaga komputer itu awet dan dapat digunakan selama mungkin. Berbagai cara bisa kita lakukan, seperti pasokan listrik yang stabil, dibelikan trafo motor, pasang UPS dan pemasangan kabel yang benar. (Lebih jelasnya bisa konsultasi Mas Dian, Pakar Hardware dan Software.
Sedangkan kerusakan program dan sofware simpus, tetap juga kita gak mampu meramal kapan rusak. Soalnya, akhir-akhir ini virus dan penyakit lain semakin ganas. Tetap saja kita cuma bisa melakukan langkah tepat untuk menjaga agar software aman. Misalnya dengan melakukan dengan benar prosedur menjalankan program, tidak meng-install program tidak jelas dan menggunakan komputer secara bijak. (jangan dipaksa buat maen game terus yo..).
Jika kedua hal itu aman, kita masih ada tugas lain. Yaitu menjaga data simpus tetap aman dan benar. Dengan backup data di hardisk komputer lain dan selalu meneliti database simpus, Insya Allah cukup aman jika sewaktu-waktu meletus (rusak). Namun demikian, setiap usaha harus dibarengi doa dan hati yang ikhlas menerima simpus. Karena apa, ternyata energi positif kita berpengaruh juga pada kinerja komputer. Seperti ngopeni pitik, jika kita senang dan sabar, ayam kita banyak telurnya. (sama sekali gak nyambung ya...).
Setelah muter-muter gak karuan, kita masuki tema besar kita. Kepercayaan kita pada komputer. Apalagi secara hukum, apakah data komputer ini dapat dipertanggung jawabkan ? Apakah rekam medis simpus sudah diakui dalam hukum positif ? Kalau kita rajin dan mau membuka diri, ternyata jawabanya = Ya. Jangankan simpus, rekaman kamera, rekaman CCTV, VIDEO, Photo atau data lain bisa dijadikan alat bukti kepolisian untuk suatu kasus. Mengapa kita masih bimbang dan ragu ?.
Jika kita tidak percaya pada komputer, mengapa kepolisian dan KPK menggunakan alat bukti dari rekaman dan data komputer ? Saya sengaja tidak menunjukkan pasal dan ayatnya, supaya kita mau mencari sendiri. Jaman telah berubah, kejahatan juga berubah. Alangkah ruginya jika kita tidak berubah.
Lupakan sejenak ganti-mengganti judul diatas. Kita kaji di lain waktu ya ? (emangnya punya waktu, apa hanya alasan karena gak mampu). Lebih relaks dan tidak menyinggung bangsa manusia, kita gak ganti judulnya. Oke ?. ”Pintar, ...memang kadang kita mesti nuruti kemauan orang supaya kemauan kita nanti juga keturutan”, ini wasiat suci mbah doel, pemilik ’waralaba’ warung di Ponorogo yang omzet per tahun miliaran rupiah (semua). Jadi judulya : Masihkah kita percaya komputer ?
Sejak ditemukan oleh penemunya (jangan GR, bukan Pak De mu), perkembangan teknology komputer sangat pesat melebihi ramalan wajar akal manusia. Dari komputer tua berukuran raksasan sampai microcomputer sekarang, tiap detik ada kemajuan dan perubahan. Kadang-kadang saya juga heran, ini yang pinter manusia yang bikin komputer atau memang dasar komputernya yang hebat. Sampai-sampai sekarang ada usaha menyambungkan kemauan manusia di otak melalui syaraf motorik ke tangan buatan manusia. Dan relatif berhasil. Ada lagi yang aneh-aneh, robot pembantu atau robot wanita cantik. (Nah..ini baru menarik, karena robot manut, nurut gak banyak nuntut). Awas...! Kita membicarakan bangsa komputer, bukan bangsa kita. Jadi jangan tersinggung.
Anehnya, tidak pernah kita mimpi dan ramalkan, ternyata komputer membanjiri kehidupan kita seperti tsunami kecil yang gak bahaya. Sedikit demi sedikit kita dituntut menyentuh keyboard komputer. Mata kita dipaksa mlototin (artinya=membuka mata lebar-lebar biar jelas) layar datar komputer. Kita dipaksa membuat laporan dengan komputer. Bahkan, baru-baru ini, dengan bangga Dinas Kesehatan Pacitan membuat kebijakan ’Laporan Puskesmas bisa melalui email’.
Kalau mendengar berita ini siapa yang gak semaput (pingsan). Itu ide gila (kata Purdi E Chandra, Pendiri Primagama) atau mimpi siang bolong ?. Jangankan tahu email, lha wong istilah komputer, printer, simpus, jaringan, sistem operasi atau istilah rumit bagi orang puskesmas di pacitan belum sepenuhnya mudeng (paham). Apalagi yang kemarin masih ada masalah jaringan dan simpus yang jalan ditempat, gak kuat dan gak tahan kalau diajak mikir yang lain. Tapi itulah hidup. Memang diluar dugaan. Seperti kekalahan ’menyakitkan’ Indonesia dengan saudara ’nakal’ nya Malaysia. (skor gak perlu disebut ya, gak sopan). Belum selesai satu masalah, daftar tunggu masalah lain juga antri untuk kita selesaikan. Bisa runyam jika masalah itu gak manut jadwal, bisa seperti antrean beli tike final AFF di Gelora Bung Karno. (mengapa sifat-sifat ini tidak jauh beda dengan kita ya, menurut anda wajar gak ?)
Mau laporan lewat email, lewat CD, lewat tulisan tangan atau lewat udara gak masalah. (kecuali kita bikin masalah). Semuanya bisa dipesan dan diatur. Yang penting kan laporan benar, tepat waktu, murah dan mudah. Kita kadang banyak debat gak karuan, padahal intinya kita itu malas berubah dan takut kemajuan ( takut kita gak bisa mengikuti ). Kalau urusan dana atau anggaran, masih pantaskah negara kaya ini gak mampu membiayai proyek kecil itu ?.
Yang mau kita dalami adalah apakah komputer itu bisa dipercaya ?. ”Emangnya kenapa mas ?” tanya Adit tiap dia pengen tahu. Aku juga pusing jika Adit bertanya. Mengapa dia tanya padaku. Mengapa tidak tanya pada rumput yang bergoyang ?. Apa yang harus aku jawab. Apa setiap pertanyaan harus ada jawabannya ?. (Sorry Dit....., cuma iseng. Biar kelihatan mikir). Aku baru sadar sekarang. Sifat Adit yang suka bertanya padaku adalah hukum karma bagiku. Lho... apa hubungannya kek ? ( KEK adalah panggilan ’mesra’ temanku di Ponorogo, khususnya Toriq di RSU Darmayu . Kek dipopulerkan sejak muda sewaktu sama-sama ’mondok’ di Jl. Kalimantan. Kalau ketemu teman, kita selalu menyebut KEK, seperti istilah MAS, DOEL, BOS, CAH,dll ). Sewaktu aku ’kedanan’ komputer waktu dulu, aku juga rajin bertanya pada ’pakar’ komputer bernama Imron, anak Pandeglang.
”Lanjut gak ?” Ok, kita lanjutkan.
Ternyata setelah mengenal komputer khususnya simpus sejak 2 tahun lalu, kita telah mengalami banyak kejadian, yang baik maupun buruk, yang menyenangkan maupun menyedihkan, maupun kejadian yang tidak kita ketahui. (kebanyakan kita cuek karena tidak menambah uang dapur dan merepotkan). Semua kejadian itu bagi yang mau berfikir akan diambil pelajaran untuk melangkah masa depan. ”Mantap Mas ”, kata Adit again. (mengapa Adit selalu muncul, kenapa gak yang lain ?). Sebenarnya saya mau menyebut yang lain, cuma belum dapat ijin dan takutnya nanti minta royalty.
Kalau kejadian baik, itu kurang menarik dipelajari oleh para kritikus termasuk yang nulis ini. (he.... he... he..... akhirnya ngaku juga). Yang menarik adalah bencana yang datang bertubi-tubi di puskesmas setelah simpus diterapkan. Memang sih, gak jauh dari budaya bangsa kita, sedang panen bencana. Mulai dari tagihan listrik mendadak naik, jaringan gak konek, server mati, PC Net rusak, kabel dimakan tikus, mouse gak jalan, lupa pasword, printer ngadat atau berjuta masalah lain. Kemudian internet belum jalan, modem gak jalan, gak ada sinyal, gak ada speedy, bayar internet mahal dan akses internet lambat. Alhamdulillah, sudah banyak masalah kita hadapi dengan tegar dan sabar.
Dibalik semua itu, ada menu simpus yang menarik. Yaitu menu : Laporan. Berbagai macam kebutuhan dan laporan sudah ada disitu. Ada laporan bulanan, harian, berdasarkan cara bayar atau wilayah. Secara umum sudah komplit. Cuma ada perbaikan untuk memenuhi kebutuhan laporan yang selalu berkembang. Yang bikin saya tenang, mas Indro selalu siap memperbaiki menu tersebut.
Jika kita amati, inti dari persoalannya adalah data komputer ini bisa dipercaya gak ? Apakah angka-angka yang muncul ini sudah benar ? Apakah data dikomputer ini tidak hilang ? Apa data bisa berubah ?. Pertanyaan ini tentu baik, cuma jawabannya bisa beragam. Kita juga bebas memilih dari beberapa jawaban yang cocok dengan kita.
Kalau komputer secara fisik rusak, tidak ada yang bisa menjawab kapan rusaknya. Bisa besok atau tahun depan. Tidak bisa diramal. Yang bisa kita upayakan adalah menjaga komputer itu awet dan dapat digunakan selama mungkin. Berbagai cara bisa kita lakukan, seperti pasokan listrik yang stabil, dibelikan trafo motor, pasang UPS dan pemasangan kabel yang benar. (Lebih jelasnya bisa konsultasi Mas Dian, Pakar Hardware dan Software.
Sedangkan kerusakan program dan sofware simpus, tetap juga kita gak mampu meramal kapan rusak. Soalnya, akhir-akhir ini virus dan penyakit lain semakin ganas. Tetap saja kita cuma bisa melakukan langkah tepat untuk menjaga agar software aman. Misalnya dengan melakukan dengan benar prosedur menjalankan program, tidak meng-install program tidak jelas dan menggunakan komputer secara bijak. (jangan dipaksa buat maen game terus yo..).
Jika kedua hal itu aman, kita masih ada tugas lain. Yaitu menjaga data simpus tetap aman dan benar. Dengan backup data di hardisk komputer lain dan selalu meneliti database simpus, Insya Allah cukup aman jika sewaktu-waktu meletus (rusak). Namun demikian, setiap usaha harus dibarengi doa dan hati yang ikhlas menerima simpus. Karena apa, ternyata energi positif kita berpengaruh juga pada kinerja komputer. Seperti ngopeni pitik, jika kita senang dan sabar, ayam kita banyak telurnya. (sama sekali gak nyambung ya...).
Setelah muter-muter gak karuan, kita masuki tema besar kita. Kepercayaan kita pada komputer. Apalagi secara hukum, apakah data komputer ini dapat dipertanggung jawabkan ? Apakah rekam medis simpus sudah diakui dalam hukum positif ? Kalau kita rajin dan mau membuka diri, ternyata jawabanya = Ya. Jangankan simpus, rekaman kamera, rekaman CCTV, VIDEO, Photo atau data lain bisa dijadikan alat bukti kepolisian untuk suatu kasus. Mengapa kita masih bimbang dan ragu ?.
Jika kita tidak percaya pada komputer, mengapa kepolisian dan KPK menggunakan alat bukti dari rekaman dan data komputer ? Saya sengaja tidak menunjukkan pasal dan ayatnya, supaya kita mau mencari sendiri. Jaman telah berubah, kejahatan juga berubah. Alangkah ruginya jika kita tidak berubah.
Subscribe to:
Posts (Atom)