Ngopi Neng Warung

Negara berhasil

   Mudah saja jawabannya, kebalikan dari artikel negara gagal. Cuma, adakah ciri itu disekitar kita ?

Negara gagal

Ciri-ciri negara gagal adalah :
1. Gagal mendapatkan pemimpin yang tegas, bersih, pemberani, setia pada rakyat, jujur, tidak rakus kekuasaan
    dan uang, tidak mementingkan diri dan keluarganya
2. Gagal menyediakan pendidikan gratis / murah, pelayanan kesehatan gratis / murah,

Mantri, pahlawan tanpa tanda jasa

Ikatan Mantri Indonesia (IMI) mengucapkan penghargaan dan terima kasih atas perjuangan para mantri diseluruh Indonesia, atas dedikasi dan prestasi yang selama ini dalam mengabdikan hidupnya untuk kesehatan masyarakat. Kami mengetahui para mantri senior banyak yang sudah jompo dan lanjut usia. Meskipun perhatian pemerintah belum sebanding dengan pengorbanan para mantri tersebut, doa kami adalah : semoga mantri selalu disayangi Tuhan, tetap sehat, bahagia, rejeki melimpah. Kalian adalah Pahlawan Tanpa Tanda Jasa yang sesungguhnya.

Penyimpangan Tujuan Puskesmas

    Kesehatan mencakup 4 hal, yaitu promotif, preventif, curatif dan rehabilitatif. Sejak awal mulanya didirikan puskesmas, tujuan dasarnya adalah melakukan promotif (peningkatan kesehatan) dan preventif (pencegahan penyakit) dan tidak melupakan kuratif (pelayanan kesehatan dasar). Sedangkan fungsi curatif dan rehabilitatif lebih banyak diambil oleh rumah sakit.
   Anggaran puskesmas selama ini memang lebih banyak ke Upaya Kesehatan Masyarawakat (UKM) yang mencakup 2 hal pokok tadi, dan sisanya untuk Upaya Kesehatan Perorangan (UKP).
 

Belajarlah 'dari' bupati-bupati kuat

cuma copy pasti dari tulisah dahlan iskan di http://dahlaniskan.wordpress.com

Begitu banyak bupati/walikota di Indonesia tapi jarang yang menonjol. Di antara yang sedikit itu termasuk Walikota Solo, Bupati Sragen, Bupati Lamongan yang dulu (saya belum mengenal reputasi bupati yang sekarang), Bupati Wakatobi di Sulawesi Tenggara, Walikota Ternate, Walikota Bau-bau di pulau Buton, Bupati Asahan, Bupati Berau di Kaltim dan Walikota Surabaya (baik yang Bambang DH maupun penggantinya). Masih ada beberapa lagi memang, tapi tidak akan seberapa.

BIROKRASI : "makhluk paling aneh"

ini kutipan dari catatan dahlan iskan : 

Birokrasi itu “binatang” yang paling aneh di dunia: kalau diingatkan dia ganti mengingatkan (dengan menunjuk pasal-pasal dalam peraturan yang luar biasa banyaknya). Kalau ditegur dia mengadu ke backingnya. Seorang birokrat biasanya  punya backing. Kalau bukan atasannya yang gampang dijilat, tentulah politisi. Atau bahkan dua-duanya. Kalau dikerasi dia mogok secara diam-diam dengan cara menghambat program agar tidak berjalan lancar. Kalau dihalusi dia malas. Kalau dipecat dia menggugat. Dan kalau diberi persoalan dia menghindar.
Intinya: ide baru tidak gampang masuk ke birokrasi. Birokrasi menyenangi banyak program tapi tidak mempersoalkan hasilnya. Proyek tidak boleh hemat. Kalau ada persoalan jangan dihadapi tapi lebih baik dihindari. Dan keputusan harus dibuat mengambang. Pokoknya birokrasi itu punya Tuhan sendiri: tuhannya adalah peraturan. Peraturan yang merugikan sekalipun!

3 syarat tenaga kesehatan sejahtera

1. Pilih pimpinan dari level bawah sampai atas yang kuat, punya visi, tegas, peduli nasib bawahanbdan mau 
    memperjuangkan kesejahteraan tenaga kesehatan
2. Jangan pedulikan pimpinan yang kaku, egois, tidak peduli bawahan, hanya memikirkan diri dan
    keluarganya saja
3. Antar profesi kesehatan, rapatkan barisan. Jangan bertarung.

Perbedaan Bangsa Besar dengan Bangsa Rendahan

Perbedaan Bangsa Besar dengan Bangsa rendahan adalah :
  1. Bangsa Yang besar para pemegang kekuasaannya berpikir untuk bangsa dan negaranya, sedang bangsa rendahan hanya mementingkan dirinya,golongannya,dan partainya.
  2. Bangsa yang besar selalu bertanya bagaimana, sedang bangsa rendahan selalu bertanya mengapa dan kenapa.

RENUNGAN UNTUK PARA PEMIMPIN

“Jika orang kaya, penguasa dan orang kuat menghadap saya, maka ia akan jadi lemah di hadapanku, insya Allah.  Jika orang miskin dan duafa menghadap saya, maka ia akan jadi kuat, insya Allah”.  Begitulah sebagian pidato Abu Bakar Siddiq ketika baru dilantik menjadi khalifah. “Jika saya mengikuti hukum Allah, bantulah saya.  Dan jika saya melenceng dari hukum Allah, perangi saya, luruskan saya dengan pedang”  itu kata Umar ra ketika baru dilantik menjadi khalifah.

Mengapa Profesi Kesehatan Profesi Mulia ?

   Sejak lahirnya, profesi dibidang kesehatan adalah profesi dambaan orang tua, dambaan para remaja untuk melanjutkan sekolah dan dambaan masyarakat yang membutuhkan tenaga kesehatan. Hal ini disebabkan orang kesehatan pada awalnya dipandang dewa penolong, berjiwa sukarela, baik hati dan mendapat kedudukan terhormat di masyarakat. Saat itu belum banyak jenis  profesi dibidang kesehatan. Saat itu juga, profesi tersebut pada umumnya orangnya kaya raya karena hasil praktek di luar jam kerjanya.

Radikalisme Dalam Birokrasi

  Iklim birokrasi Indonesia dinilai pengamat kurang sehat sehingga outputnya adalah birokrasi berbelit-belit, penuh KKN, tidak transparan, mahal, bersifat personal dan emosional. Khusus di bidang kesehatan, tidak jauh berbeda. Beberapa faktanya adalah :
- Informasi akar rumput (bawahan), tidak dipahami dengan baik oleh pimpinan

PERAWAT DI PERSIMPANGAN JALAN

Nasi sudah menjadi bubur. Kebijakan telah diambil. Saat ini nasib perawat dalam persimpangan jalan, antara visi besar PPNI dan pemerintah (Menteri Kesehatan, MENPAN, BKN). coba pelajari ini :
1. PPNI mendorong anggotanya sekolah setinggi-tingginya, dari S1,S2,S3 sampai profesor, tetapi pemerintah tidak sejalan
2. PPNI ingin UU Keperawatan segera di sahkan, tetapi pemerintah sebaliknya
3. PPNI ingin perawat mendapat tunjangan kesehatan yang layak (beresiko tertular penyakit), pemerintah diam saja

KOMPUTERISASI PUSKESMAS, Kebutuhan atau Kewajiban ? Karena Anggaran atau Kepedulian ?

tulisan ini hanya copy paste dari saudara jauh kita : www.puskesmaspunung.co.cc


' Judul diatas saya lanjutkan ya.... apakah komputerisasi puskesmas itu karena atasan atau bawahan ( he ehe he....he....awas yo...pilih salah satu gak boleh dua-duanya?'

Untuk mengatasi kelangkaan dokter di daerah, Menteri Kesehatan mengupayakan agar mulai tahun ini Puskesmas dan Rumah Sakit tak lagi memakai kertas (paperless). Rekam medis dicatat secara elektronik, sehingga pemeriksaan bisa dilakukan jarak jauh.

Dengan teknologi informasi, Puskesmas atau Rumah Sakit di daerah tidak harus merujuk pasiennya ke kota-kota besar hanya untuk mendapatkan penanganan dokter spesialis. Misalnya pasien melakukan rontgen di Lampung, gambarnya bisa dikirim saat itu juga untuk diperiksa di Jakarta.

Misran, Sang Pahlawan Mantri Desa

sumber : abuga / www.kompasiana.com

Masih ingat Bapak Misran? seorang mantri (perawat) desa Kuala Samboja, Kutai Kertanagara, Kalimantan Timurdi pedalaman Kalimantan Timur yang ditangkap karena membantu orang yang membutuhkan pengobatan. Ia dituduh melanggar UU No36/2009 tentang Kesehatan.
Setelah divonis bersalah kemudian melakukan uji materi UU tersebut ke MK. Kemarin MK memutus mengabulkan permohonan Misran. Dengan demikian kini para mantri boleh melakukan pelayanan kesehatan layaknya dokter. Klausul yang membolehkan mantri praktek adalah “perawat yang melakukan tugasnya dalam keadan darurat yang mengancam jiwa pasien diperlukan tindakan medis segera untuk menyelamatkan pasien”.

Sang Mantri Misran yang Masih Menanti Wahyu

Hampir satu  tahun, kasus mantri desa, Misran, teronggok di Mahkamah Konstitusi (MK). Hingga kini, Misran terus berharap kasusnya tidak mengambang. Apalagi, dengan nasib mantri desa yang dikriminalisasikan oleh UU Kesehatan, membuat para mantri lainnya menjadi was- was akan dipenjara juga.

Pengamat Kesehatan: Ada yang Tidak Beres Dengan Pengadilan

Keputusan Banding Pengadilan Tinggi (PT) Samarinda yang menguatkan keputusan PN Tenggarong kemarin, membuat tanda tanya besar. Masyarakat menilai ada yang tidak beres dengan pengadilan karena hakim harusnya memahami kondisi geografis dan latar belakang masalah.


APAKAH PERLU MANTRI DIPERHATIKAN ?

ini adalah tulisan dari www.perawat.co.cc, hanya copy paste lho....

MANTRI, DIPUJA DAN DIANIAYA

Sejak zaman belanda, mantri menjadi ujung palayanan kesehatan dan dimanfaatkan pemerintah untuk menyukseskan program kesehatan. Selain itu, masyarakat sangat senang kehadiran mantri karena memberikan solusi mudah dan murah untuk masalah kesehatannya.