Ngopi Neng Warung

MAKNA SURAT AR-RAHMAN YANG DIULANG-ULANG

*MAKNA SURAT  AR-RAHMAN YANG DIULANG-ULANG*

_Bismillahirahmanirrahiim...._
***Didalam  Surat Ar-Rahman ada pengulangan satu ayat yang berbunyi : 

        _*فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ*_
ِ**"Fabiayyi alaa'i rabbi-kumaa tukadzdzibaan"
*Artinya :* _"Maka Nikmat Tuhan-mu yang manakah yang ''Kamu Dustakan'?"_

⭕**Kalimat ini diulang-ulang sebanyak 31x oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. 
Apa gerangan makna kalimat tersebut ?

⭕**Setelah Allah menguraikan beberapa nikmat yang dianugerahkan kepada kita, lalu Allah bertanya : 
***"Maka Nikmat Tuhan-mu yang manakah yang Kamu Dustakan'?"*

⭕**Menarik untuk diperhatikan bhw _*Allah menggunakan kata*_ _"DUSTA",_ bukan kata _"INGKAR"_

**Hal ini menunjukkan bahwa Nikmat yang Allah berikan kepada manusia itu tidak bisa diingkari. 
Yang sering dilakukan manusia adalah 'Men-Dustakan' NYA.

***⭕Dusta berarti 'Menyembunyikan Kebenaran'.

**Manusia sebenarnya tahu bahwa mereka telah *'Diberi Nikmat' oleh Allah*, tapi mereka 'menyembunyikan Kebenaran itu, sehingga mereka...
***MENDUSTAKANNYA....

⭕**Bukankah kalau kita mendapat rezeki banyak, kita katakan bahwa itu karena hasil dari 'Kerja Keras' kita...???

⭕**Kalau kita berhasil meraih gelar Sarjana S1/S2 bahkan S3, itu karena 'Otak Kita' yang cerdas...???

⭕**Kalau kita sehat, jarang sakit, itu karena 'kepiawaian kita', kita 'Pandai Menjaga' Pola  Makan & Rajin ber-Olah Raga, dsb.

⭕**Semua nikmat yang kita peroleh seakan-akan hanya karena usaha kita, tanpa sadar, kita telah melupakan Peranan Allah, 

» Kita sepelekan kehadiran Allah pada semua keberhasilan yang kita raih.
» kita dustakan bahwa sesungguhnya nikmat itu semuanya datang dari Allah.

*"Maka Nikmat Tuhan-mu yang manakah yang Kamu dustakan...?"*

✅Kita telah bergelimang kenikmatan : 
» Harta, 
» Pasangan Hidup, 
» Anak2 yang telah kita miliki.

_*Semua Nikmat itu akan Ditanya pada Hari Kiamat Kelak.*_

_⭕"Sungguh kamu pasti akan ditanya pada hari itu akan 'Nikmat' yang kamu peroleh saat ini"_ 
(QS At-Takatsur : 8)

✅Sudah siapkah kita menjawab & Mempertanggung Jawabkannya...???

_⭕"Dan jika kamu menghitung Nikmat-nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan sanggup menghitungnya._
(QS An-Nahl : 18)

*✅Tidak patutkah kita Bersyukur Kepada-NYA...?*
» _Ucapkan Alhamdulillah._
» _Berhentilah mengeluh, apalagi membanggakan diri._
» _dan Jalani Hidup ini dengan ikhlas, tawadhu sebagai bagian dari ''Rasa Syukur'' kita._
_*Semoga Bermanfa'at*_

10 LANGKAH MEMBUAT REZEKI SELALU MENGHAMPIRI KITA

*10 LANGKAH MEMBUAT REZEKI SELALU MENGHAMPIRI KITA*

*1. TAQWA*
Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar bagi mereka. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka (QS.Ath-Tholaq 2-3).

*2. TAWAKAL*
Nabi SAW bersabda : "Seandainya kamu bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya kamu diberi rezeki seperti burung diberi rezeki. Ia pagi hari lapar dan petang hari telah kenyang (HR Ahmad, at-Tirmizi, Ibnu Najah, Ibnu Hibban, Al-Hakim dari Umar bin Khattab R.A)

*3. SHOLAT DHUHA*
Firman Allah dalam hadits qudsi : "Wahai anak Adam, jangan sekali-kali engkau malas mengerjakan empat rakaat pada waktu permulaan siang (sholat Dhuha), nanti *pasti* akan Aku cukupkan keperluanmu pada petang harinya".(Riwayat Al-Hakim dan Thabrani).

*4. ISTIGHFAR*
Firman Allah "Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, karena sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan dengan lebat dan membanyakkan harta dan anak-anakmu dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan pula di dalamnya untukmu sungai-sungai".(QS.Nuh 10-12).

*5. SILATURAHIM*
Nabi SAW bersabda : "Siapa yang senang untuk dilapangkan rezekinya dan diakhirkan ajalnya (dipanjangkan umurnya), hendaklah ia menyambung tali silaturahmi". (HR.Imam Bukhari)

*6. SEDEKAH*
Sabda Nabi SAW : "Tidaklah kamu diberi pertolongan dan diberi rezeki melainkan karena sedekah kepada orang-orang lemah di antara kamu".(HR.Bukhari).

*7. BERBUAT KEBAIKAN*
Nabi SAW bersabda : "Sesungguhnya Allah tidak akan zalim kepada hambaNya yang berbuat kebaikan. Mereka akan dibalas dengan diberi rezeki di dunia dan akan dibalas dengan pahala di akhirat".(HR.Ahmad).

*8. BERDAGANG*
Nabi SAW bersabda : "Berdaganglah karena sembilan dari sepuluh rezeki itu ada dalam perdagangan".(HR.Ahmad).

*9. BANGUN PAGI*
Aminah menceritakan bahwa Rasulullah SAW bersabda "Bangunlah pagi-pagi untuk menjemput rezekimu dan melakukan tugasmu, karena hal itu membawa berkah dan kesuksesan".(HR.At-Tabarani).

*10. BERSYUKUR*
"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat kepadamu, dan jika kamu mengingkari, maka sesungguhnya azabKu sangat pedih".(QS.Ibrahim 7).

Kritik Ali Syariati atas Pemikiran Sosial Barat

Kritik Ali Syariati atas Pemikiran Sosial Barat

WEDNESDAY, DECEMBER 9, 2015LABELS: 

Memahami pemikiran Ali Syariati terkait dengan berbagai macam hal dan diskursus keilmuan, tentu bukan merupakan hal yang mudah, mengingat posisinya yang begitu getol dalam menanggapi segala hal yang dihadapi, bisa dikata bahwa Syariati adalah salah satu tokoh yang melahirkan berbagai macam diskurus kewacanaan terkait dengan kompleksnya kehidupan. 
Tulisan ini hanya fokus mengurai secara singkat nuansa keilmuan Syariati terkait dengan tiga hal, yaitu :
1.      Pandangan Dunia
Hampir semua peradaban umat manusia dipastikan mempunyai worldview. Bangsa Jerman misalnya, mempunyai konsep worldview dengan istilah weltanschauung. Kata weltberarti dunia, sedangkan kata anschauung berarti persepsi. Jadi weltanschauung adalah persepsi tentang dunia. Sedangkan bangsa Rusia menggambarkan pandangan tentang dunia dengan istilah mirovozzenie.
Worldview pada umumnya diikat dengan predikat kultural, religius atau saintifik. Dari sini kemudian muncul istilah Christian worldview, medieval worldview, scientific worldview, modern worldview dan the worldview of Islam. Yang terpenting dari worldview adalah dari mana bermula?. Thomas Kuhn (1922-1996) menggunakan worldview sebagai paradigma yang menjadikan nilai seabgai tolok ukur (standard) dan metode tertentu yang mengikat kerja-kerja saintifik. Dan menurut Syariati bahwa Alquran adalah sumber inspirasi untuk membangunworldview yang darinya semestinya berbagai disiplin ilmu lahir.[1]
Gagasan apapun yang lahir dari seseorang pasti dipengaruhi oleh mazhab pemikiran yang ia anut. Jika seseorang percaya pada mazhab pemikiran tertentu, maka kepercayaan, emosi, jalan hidup, aliran politik, pandangan-pandangan sosial, konsep-konsep intelektual, keagamaan dan etikanya tidaklah terpisah dengan pandangan dunianya, dan karenanya pula maka mazhab pemikiran pada akhirnya dapat menciptakan gerakan, membangun dan melahirkan kekuatan sosial.[2]
Mazhab pemikiran pada intinya harus memiliki sistem penopang dasar, dimana darinya semua gagasan dapat berkembang, penopang dasar tersebutlah yang disebut dengan pandangan tentang dunia (world view); entah itu berorientasi ketuhanan, bercorak materialistik, naturalistis, idealistis, fasis, Marxis, dan sebagainya. Seseorang yang tidak memiliki pandangan tentang dunia ibarat seseorang yang mempunyai banyak perabot rumah tangga; ia terus-menerus memindahkannya dari satu rumah ke rumah lain tanpa tertata dengan baik. Bagi Ali Syari’ati, lebih baik seseorang tidak mempunyai bahan ketimbang tidak mempunyai rancangan.
Pandangan tentang dunia kata Syariati adalah pemahaman yang dimiliki seseorang tentang wujud atau eksistensi. Misalnya, seseorang yang menyakini bahwa dunia ini mempunyai Pencipta Yang Sadar dan mempunyai kekuatan atau kehendak, dan bahwa dari catatan dan rekaman akurat yang disimpan, ia akan menerima ganjaran atas amal perbuatannya atau dia akan dihukum lantaran amal perbuatannya itu, maka ia adalah orang yang mempunyai pandangan tentang dunia religius. Berdasarkan pandangan tentang dunia inilah seseorang lalu mengatakan: ”Jalan hidupku mesti begini dan begitu dan aku mesti mengerjakan ini dan itu”, inilah makna memiliki ideologi agama. Dengan demikian, idealism Hegel, materialisme dialektik Marx, eksistensialisme Heiddeger, Taoisme Lao Tsu, wihdatul wujud al-Hallaj, semuanya adalah pandangan tentang dunia. Setiap pandangan tentang dunia ataupun mazhab pemikiran pasti akan memperbincangkan konsep manusia sebagai konsep sentral.[3]
Pandangan tentang dunia seseorang dipengaruhi oleh aspek-aspek spiritual dan material yang khas dari masyarakatnya. Menurut Henry Bergson, dunia yang dipandang oleh seorang individu yang hidup dalam suatu masyarakat tertutup merupakan suatu dunia yang terkungkung. Begitu juga sebaliknya, seorang individu yang hidup dalam masyarakat yang terbuka memandang dunia luar sebagai sesuatu yang tidak terbatas, ekspansif dan senantiasa bergerak. Masyarakat dan agama selalu menentukan visi manusia tentang dunia yang kemudian mempengaruhi tindakan-tindakannya. Oleh karena itu, membahas pandangan tentang dunia pada hakikatnya membahas tentang manusia sebagai subjek. Karena pandangan tentang dunia mempengaruhi seseorang dalam mengambil pilihan tindakannya, maka mempelajari pandangan hidup suatu komunitas sosial atau bangsa berarti mempelajari tipe-tipe dari bentuk-bentuk dan pola kebudayaan serta berbagai karakteristik yang dikembangkan oleh komunitas atau bangsa tersebut.[4]
Salah satu pandangan tentang dunia yang berkembang adalah paham materialisme yang menyatakan bahwa hanya ada satu realitas fundamental di alam semesta ini yaitu materi. Dalam pandangan materialisme, semua elemen, fenomena, aksi serta reaksi di alam ini dapat diterangkan sebagai manifestasi materi. Materialisme juga menyatakan bahwa alam semesta ini tidak diciptakan oleh suatu kemauan atau kekuatan yang cerdas, demikian juga tidak ada alasan yang mendasari penciptaan sejak awal mulanya. Dengan demikian, pandangan materialisme telah melahirkan manusia dalam posisi teraleniasi dari dunia yang melingkupinya.[5]
Gerakan Renaissance di Barat pada hakikatnya telah melahirkan, bahkan memperkuat, pandangan materialistik yang berujung pada pencarian kenikmatan hidup (hedonisme) yang muara akhirnya adalah menciptakan absurdisme yang merasuki seluruh bidang ilmu seperti seni, sastra dan filsafat. Kalau pandangan tentang dunia religius ortodoks akan melahirkan cara pandang yang serba keakhiratan dan  pengkerdilan peran manusia, maka pandangan materialistik hanya mendasarkan semata-mata pada ilmu. Pandangan tentang dunia materialistik menemukan alam semesta sebagai absurd, tanpa pemilik dan tanpa makna, sedangkan pandangan hidup religius ekstrim memerosotkan manusia menjadi makhluk yang sepele.[6]
Di tengah dominasi pandangan tentang dunia yang materialistik sekarang ini, Ali Syari’ati menegaskan dirinya pada pilihan pandangan dunia religius. Jenis pandangan dunia ini yakin bahwa jagat raya adalah sesuatu yang datang dari Tuhan, sadar dan responsif terhadap tuntutan-tuntutan spiritual serta aspirasi manusia. Hanya saja, kerangka dasar pandangan dunia yang bersifat religius yang dimaksud adalah cara pandang yang berbasis pada hasil riset ilmiah yang bersifat saintifik bukan bentuk yang ortodoks atau ekstrim. Ali Syari’ati mengambil pilihan pandangan hidup sintetik di antara kutub ekstrim di atas yaitu pandangan hidup religius humanistik yang mensublimasi unsur manusia sebagai makhluk yang progresif, selalu mencari kesempurnaan dan sangat manusiawi.[7]
Kritik Ali Syari’ati terhadap Barat adalah karena cara pandang mereka yang positivistik dimana melalui proyek sekularisasi ilmu pengetahuan dipisahkan dari konteks kemanusiaan.[8]Oleh karena itu, tidak mengherankan jika tingginya ilmu pengetahuan dan teknologi justru melahirkan alienasi manusia dari nilai kemanusiaannya sendiri.
Peranan kesejarahan manusia dalam menjalani hidup di dunia ini kata Syariati adalah bergerak pada dua kutub yang saling berhadapan. Kutub pertama merupakan kutub negatif yang diwakili oleh mereka yang menghambat kemajuan dengan melakukan kejahatan-kejahatan, dekadensi, penindasan, memperbudak, , menegakkan tirani atas rakyat, dan sebagainya. Kutub kedua adalah kutub positif kemanusiaan yang menentang tirani dan ketidakadilan demi tegaknya perdamaian, keadilan dan persaudaraan. Kedua kutub tersebut selalu berebut ruang dominasi dalam mengisi ruang sejarah umat manusia.[9]
Senjata dari kedua kutub tersebut adalah agama, dengan demikian yang terjadi adalah perang agama melawan agama[10] Ilustrasi yang menarik antara pertarungan dua kutub itu dapat dilihat dari narasi historis pertarungan antara Qabil dan Habil dalam al-Qur’an yang berakhir terbunuhnya Habil di tangan Qabil yang mengandung arti Simbolik tentang sejarah awal umat manusia. Dalam kitab-kitab suci dunia dijelaskan betapa kelas Qabil menjadi kelas dominan yang sifatnya kejam dan selalu berusaha menentukan nasib sejarah manusia sesuai dengan keinginannya yang disimbolisasikan dengan tiga wajah, yaitu emas, kekuasaan dan agama. Di dalam al-Qur’an dan Taurat, tiga wajah tersebut masing-masing diwakili oleh Firaun yang mensimbolisasikan kekuasaan, Qarun yang mensimbolisasikan kekayaan dan kekuatan ekonomi, dan Ba’lam Bauri yang mensimbolisasikan kelas pendeta penguasa. Mereka merupakan manifestasi tiga segi dari satu Qabil.
Kelas Qabil melestarikan kekuasaannya atas massa sepanjang zaman. Kelas ini memonopoli kekayaan dengan memeras massa, memegang kekuasaan dalam bentuk pemerintahan dan berbagai institusi untuk mendominasi massa, serta menyalahgunakan agama untuk membenarkan legitimasinya sebagai penguasa. Dari narasi sejarah Qabil dan Habil telah lahir dualisme kelas, yaitu kelas penguasa dan kelas yang dikuasai meskipun mereka berawal dari unitas kemanusiaan Adam yang kemudian melahirkan dualisme sistem sosial yang berbeda.
Dalam pertarungan antara dualisme kosmik ini, agama menjadi faktor determinan dalam menanamkan kekuatan yang suci, lestari untuk membangun sikap keberagamaan yang penuh harmoni. Cerita Habil dan Qabil yang melahirkan dualisme kelas dijadikan oleh Ali Syari’ati sebagai cara baca dalam melihat kecenderungan manusia modern yang hakikatnya menjelma dalam pertarungan antara kelas feodal dengan kelas borjuis. Pada Abad Pertengahan, feodalisme merupakan kelas dominan yang merupakan infrastruktur masyarakat, sedangkan suprastrukturnya adalah agama yang berfungsi sebagai legitimasi. Namun kekuasaan kelas feodalisme tergeser dengan lahirnya kelas borjuis baru yang lahir sebagai akibat kontak hubungan perdagangan antara Timur dan Barat.
Kontak ini telah meruntuhkan tatanan nilai pedesaan, monastik, mistik dan kepausan dan menggantinya dengan tradisi industrial, urban, sekuler, intelektual dan nasional. Borjuasi baru sebagai kelas penguasa telah meletakkan prinsip-prinsip dan keyakinan norma moral dan kultural di atas individualisme, materialisme dan liberalisasi ekonomi serta politik. Sampai sekarang ini spirit yang mendominasi kebudayaan dan peradaban adalah spirit borjuasi yang melahirkan semangat dehumanisasi.[11]
Ali Syari’ati menawarkan gagasan pandangan tentang dunia religius humanistik untuk memerangi dualisme tersebut sehingga manusia akan menemukan keesaan yang orisinil dalam rangka membangun kesadaran manusia pada misinya sebagai wakil atau khalifah Tuhan di muka bumi. Menurutnya, manusia adalah makhluk merdeka dan memiliki potensialitas tanpa batas untuk menentukan nasibnya sendiri dan bukan ditentukan oleh kekuatan eksternal dengan membangun semangat Tauhid.[12]
Ali Syari’ati memahami agama bukan sebagai kumpulan doktrin yang lebih berdimensi ritual saja. Menurutnya, agama adalah sumber lahirnya kesadaran (awareness), landasan etik (morality), tanggungjawab (responsibility) dan kehendak bebas (free will) yang mampu menggerakkan pemeluknya menjadi kekuatan pembebas dari determinasi ideologi-ideologimultitheism yang menindas.
2.      Filsafat Penciptaan Manusia
Masalah manusia adalah hal yang paling penting dari segala masalah. Beberapa pertanyaan pokok diajukan untuk menjelaskan betapa pentingnya masalah seputar kemanusiaan dalam Islam. Apakah manusia makhluk yang lemah dan tidak mempunyai daya di hadapan Penciptanya? Benarkah Islam menginginkan keluhuran martabat manusia? Benarkah keyakinan terhadap Islam itu sendiri akan menyebabkan lemahnya manusia? Inilah pertanyaan-pertanyaan yang berdimensi filosofis yang perlu diuraikan jawabannya. Ali Syari’ati menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas dengan menguraikan filsafat penciptaan manusia.[13]
Sebelum Allah menciptakan Adam sebagai wakil-Nya di muka bumi, Allah memberitahu kepada para malaikat. Mendengar rencana Allah untuk menciptakan manusia tersebut para malaikat menanggapinya dengan sikap pesimistis, terutama tentang bayang-bayang kerusakan yang akan timbul di muka bumi. Namun pesimisme mereka dijawab langsung oleh Allah dengan mengatakan bahwa Ia lebih mengetahui apa saja yang mereka tidak ketahui.
Menurut Ali Syari’ati Allah menciptakan manusia sebagai wakil-Nya (khalifah) dari bentuk yang paling rendah, yaitu tanah, dan kemudian ditiupkan ruh kepadanya maka lahirlah manusia. Dengan demikian manusia diciptakan oleh Allah dari dua hakikat yang berbeda, yaitu tanah bumi dan ruh yang suci. Dalam bahasa manusia, tanah (lumpur) adalah symbol dari kerendahan dan kenistaan, dan dalam bahasa manusia juga, Tuhan adalah Dzat Maha sempurna dan Maha suci. Dalam setiap makhluk, bagian yang paling suci adalah spirit atau ruhnya. Oleh karena itu, menurut Ali Syari’ati, manusia adalah makhluk dua dimensional dengan dua arah kecenderungan, yang satu membawanya ke bawah kepada stagnasi sedimenter, ke dalam hakikatnya yang rendah, sementara dimensi lainnya (ruh) cenderung naik ke puncak spiritualnya yaitu ke Dzat yang Maha suci.[14]
Dengan mendasarkan pada asal kejadiannya, manusia merupakan makhluk yang mempunyai dua kutub yang kontradiktif. Akan tetapi kebesaran dan kejayaannya yang unik justru berasal dari kenyataan bahwa ia adalah makhluk yang bersifat dua dimensional. Dua kecenderungan yang dimiliki oleh menusia berebut ruang dominasi pada dirinya karena manusia memiliki kebebasan untuk memilih dua pilihan di antara dua kutub yang kontradiktif tersebut. Setiap pilihan yang diambil manusia sebagai cermin kebebasan yang dimilikinya akan menentukan nasibnya.
Setelah Allah menyelesaikan penciptaan atas manusia, Allah kemudian memberikan pengajaran tentang nama-nama, sebagai simbol gagasan tentang pengajaran dan pendidikan. Pada posisi demikian, Tuhan adalah guru pertama manusia, dan pendidikan pertama manusia bermula dengan menyebutkan nama-nama. Setelah itu Tuhan memerintahkan kepada seluruh malaikat untuk bersujud kepadanya dan bersujudlah para malaikat itu. Fakta inilah yang menurut Ali Syari’ati merupakan arti sebenarnya dari humanisme.[15]
Menurut Ali Syari’ati keutamaan paling menonjol dari manusia adalah kekuatan kemauannya. Ia adalah satu-satunya makhluk yang dapat bertindak melawan dorongan instingnya; sesuatu yang tidak dapat dilakukan oleh makhluk lain. Kemauan bebas yang dimiliki manusia itulah yang dapat menjadi penghubung kedekatannya dengan Tuhan. Pertemuan kedekatan manusia dengan Tuhan adalah karena manusia lahir dari bagian Ruh Tuhan. Dengan demikian apa yang sama dari manusia dengan Tuhan adalah dimensi ruhnya yang melahirkan konsep kemauan bebas berkehendak dalam keadaan demikian, manusia memerlukan kehadiran agama yang mampu menyeimbangkan dan menyelaraskan dimensi-dimensi yang saling bertentangan yang ada dalam dirinya dan masyarakatnya.[16]
Dengan memperhatikan kerangka berfikir yang dikembangkannya nampak bahwa Ali Syari’ati adalah seorang intelektual dengan jiwa pemberontak yang anti kemapanan (status quo) yang cenderung tiran. Ia sendiri melakukan pemberontakan dengan memberikan gagasan revolusioner untuk membangun kesadaran umat dalam mencapai kualitas hidupnya.
3.      Pergerakan Sosial
Yang dimaksud dengan program praksis adalah langkah-langkah penerapan (program aksi) dari ide, gagasan, pemikiran-pemikiran yang telah dibangun oleh seseorang[17] Setelah Ali Syari’ati merumuskan gagasannya tentang pandangan tentang dunianya, ia lalu mengajukan pertanyaan dari mana mesti kita mulai? Pertanyaan ini merupakan masalah strategi sosial dan bukan masalah ideologi. Untuk memulai menjawab pertanyaan di atas Ali Syari’ati melihat adanya kesenjangan dan tidak adanya komunikasi intensif antara pemikir-cendekiawan dengan rakyat jelata. Selama ini para cendekiawan menjadi komunitas eksklusif yang hidup di sangkar emas dan di menara gading tanpa bisa memahami keadaan rakyat mereka. Ali Syari’ati mengkritik para cendekiawan Muslim yang jauh dari komunitas rakyat.[18]
Kaum intelektual yang dapat melakukan transformasi sosial adalah kaum intelektual yang tercerahkan (raushanfekr). Profil kaum intelektual yang tercerahkan tidaklah harus memperoleh gelar akademik. Kaum intelektual yang tercerahkan adalah individu-individu yang mempunyai tanggungjawab sosial dan mempunyai misi sosial. Oleh karenanya tidak semua intelektual tercerahkan. Banyak intelektual justru hanya menjadi budak-budak kapitalisme yang hanya bekerja secara manual dan tidak mempunyai tanggungjawab sosial.[19]
Konsepsi kaum intelektual yang tercerahkan sebagaimana digagas Ali Syari’ati, menyiratkan obsesinya agar para intelektual Muslim mempunyai basis intelektualitas yang memadai sekaligus mempunyai kepekaan sosial, profil manusia yang mampu menyeimbangkan kekuatan nalar kognitif dan nalar sosial, kesalehan individual dengan kesalehan sosial. Salah satu cara mengenali potensi umat Islam, menurut Ali Syari’ati, adalah memahami taxonomi budaya kita sendiri. Misalnya, Yunani mempunyai budaya filosofis, Romawi mempunyai budaya militer dan artistik, India mempunyai budaya spiritualistik dan masyarakat kita mempunyai budaya Islam dan religius. Adapun yang dimaksud dengan taxonomi budaya adalah semangat umum yang menentukan badan pengetahuan (body of knowledge), karakteristik-karakteristik, perasaan, tradisi, pandangan dan cita-cita rakyat dari suatu masyarakat. Dengan mengenal taxonomi budaya suatu masyarakat kita akan mengenal kebenaran terdalamnya, kepekaan-kepekaan batinnya dan perasaan-perasaan yang tersembunyi.[20]
Semangat dominan kebudayan Islam adalah keadilan dan kepemimpinan. Untuk menemukan kembali semangat tersebut, menurut Ali Syari’ati, kita perlu membangkitkan semangat ”protestanisme Islam” Istilah ”Protestantisme” yang dilekatkan pada Islam merupakan upaya Ali Shari’ati meminjam istilah Marx Weber yang menggambarkan gerakan kelompok Kristen Protestan untuk keluar dari kungkungan dogma dan mencari spirit agama yang sejati. Menurut tesis Max Weber, agama adalah ideologi yang menimbulkan perubahan, ketika ia membicarakan etika Protestan dan ruh kapitalisme.[21]
Agar seorang Muslim yang tercerahkan dapat melakukan hal-hal sebagai berikut: 1. Menyaring dan menyuling sumber-sumber daya masyarakat kita dan mengubah penyebab kebobrokan menjadi kekuatan atau gerakan; 2. Mengubah konflik antar kelas dan kelompok sosial menjadi suatu kesadaran akan tanggungjawab sosial melalui pemanfaatan kesenian, menulis, dan berbicara; 3. Menjembatani kelompok yang tercerahkan dengan kelompok yang tertindas; 4. Mencegah agar senjata agama tidak jatuh pada mereka yang tidak patut memilikinya untuk tujuan-tujuan pribadi; 5. Mengusahakan kebangkitan kembali agama untuk memerangi ketakhayulan; 6. Menghilangkan semangat peniruan dan kepatuhan dalam beragama dengan menggantinya dengan semangat ijtihad yang kritis dan revolusioner.[22]
Semua itu dilakukan agar umat Islam keluar dari jeratan tiga musuh Islam yang disimbolkan dengan Fir’aun (penguasa politik tiran), Qarun (penguasa ekonomi) dan Bal’am (kaum cerdik gadungan), sementara satu golongan dikorbankan yaitu rakyat.[23] Kepada Islamlah kita harus kembali, bukan hanya karena ia merupakan agama masyarakat kita, landasan moral dan spiritual kita, tetapi juga karena ia merupakan “diri” manusiawi dari rakyat kita. Kita harus keluar dari kolonialisme Barat dan melepaskan diri dari “memuja yang lain” untuk menjadi diri kita sendiri dan membangun kesadaran manusiawi serta membangun kesadaran sejarah dan keaslian kita dengan kembali pada Islam dengan semangat tauhid sebagai sumbu pembebasan manusia.[24]
Dengan demikian konsep tauhid adalah mabda (tempat bermula) sebuah kesadaran diri dan gerakan pembebasan diri untuk menciptakan tatanan kehidupan yang adil dan bermartabat.


[1] Hamid Fahmi Zarkasyi, Worldview, http://insistnt.com. Diakses pada 12 September 2008.
[2] Ali Syari’ati, Islam: Mazhab Pemikiran dan Aksi., Op.cit., h. 20.
[3] Ibid., h. 24-25.
[4] Ali Syari’ati, Man In Islam. terj. M. Amin Rais, Tugas Cendekiawan Muslim, (Cet.II; Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2001), h. 22-24.
[5] Ibid., h. 25-26.
[6] Ibid., h. 34.
[7] Ibid., h. 35.
[8] Robert Heck and Dawud Reznik, ”The Islamic Thought of Ali Shari’ati and Sayyid Qutb,” Mod ern Islamic Thought (May, 2007): 2.
[9] Ali Syari’ati, Tugas Cendekiawan Muslim, Op.cit., h. 37-44. Juga dapat dilihat Kritik Ali Shari’ati terkait dengan kegagalan humanisme Barat dalam memposisikan manusia dalam bukunya, Marxism and Other Western Fallacies , translated by. R. Campbell (Berkeley: Mizan Press, 1980), pp. 15-26.
[10] Ali Syari’ati, Tugas Cendekiawan Muslim, Op.cit., h. 37-38.
[11] Ibid., 37-44. Juga dapat dilihat dalam, Marxism and Other Western Fallacies, Op.cit., h. 15-26.
[12] Dalam pandangan Ali Shari’ati, ”Tauhid as the unity of nature with metanature, of man with nature, of man with man, of God with the world and with man.” Lihat Robert Heck and Dawud Reznik, ”The Islamic Thought of Ali Shari’ati,” p. 9.
[13] Ali Syari’ati, Tugas Cendekiawan Muslim. Op.cit., h. 1-2.
[14] Ibid., h. 6-7. Lihat juga NS Suwito, Transformasi Sosial: Kajian Epistemologis Ali Syari’ati Tentang Pemikiran Islam Modern (Yogyakarta: Unggun Religi, 2004),  h. 140-142.
[15] Ali Syari’ati, Tugas Cendekiawan Muslim, Op.cit., h. 8-9.
[16] Ibid., h. 17.
[17] Program praksis Ali Syari’ati dituangkan dalam kurikulum lembaga pendidikan, tempat ia banyak menuangkan gagasan-gagasan revolusionernya, yaitu Husainiyah Irsyad. Program praksis Ali Shari’ati meliputi empat aspek pokok, yaitu bidang riset, pendidikan, dakwah dan logistik. Uraian lebih rinci tentang program aksi Ali Shari’ati, lihat NS Suwito, Tranformasi Sosial , h. 238-253.
[18] Ali Syari’ati, ”What is To Be Done: The Enlightened Thinkers and Islamic Renaissance.” terj. Rahmani Astuti, Membangun Masa Depan Islam (Bandung: Mizan, 1993), h. 25-26.
[19] Ibid., h. 29.
[20] Ibid., h. 44
[21] Hamid Fahmi Zarkasyi, Worldview, http://insistnt.com. Diakses pada 12 September 2008.
[22] Ali Syariati, What is To be Done, Op.cit., h. 52-53.
[23] Ibid., h. 76.
[24] Ibid., h. 82.

Kiri Islam Hasan Hanafi

Kiri Islam Hasan Hanafi

WEDNESDAY, DECEMBER 9, 2015LABELS: 

Kemelut sosial, politik, budaya, dan agama di zaman Hassan Hanafi, menggiringnya untuk merancang suatu gerakan taktis "countre hegemoni wacana" yang diyakininya dapat menjadi kekuatan tanding atas problem yang dihadapi tersebut. Kiri Islam merupakan terminologi yang dipilih olehnya untuk membangun gerakan sosial revolusioner dan membawa gagasan pembebasan melalui penghancuran konstruksi lama yang serba reaksioner, dalam hal ini feodalisme dan kapitalisme yang mencengkram hegemoninya kedalam kesadaran masyarakat, termasuk dunia Timur (Islam).
Internalisasi gerakan difokuskan pada dua hal mendasar, yaitu pada sisi internal berupa reposisi dan pembacaan kembali tradisi sendiri, dan eksternal berupa pembacaan tradisi lain. Dari sinilah Hasan Hanafi mulai menggedor gendering perang terhadap produk-produk kebudayaan Barat yang penuh kepalsuan serta mulai memantapkan basis epistemologis tradisi Islam.
Penekanan Hanafi bahwa tugas kiri Islam ialah melokalisasi Barat, dengan kata lain mengembalikan Barat kepada batas-batas wilayahnya dan menepis mitos “mendunia” yang dibangun dengan target menjadikan dirinya sebagai pusat peradaban dunia sekaligus peradaban ideal bagi bangsa-bangsa lain. Perlu kiranya dipertegas juga bahwa secara epistemologis, gagasan ini lebih merupakan upaya pembacaan kembali tradisi Barat yang sebenarnya memiliki probel eksistensial. Dibutuhkan pengadaan upaya demitologisasi atas tradisi Barat untuk mengungkapkan kelemahan-kelemahan epistemologis dalam upaya memaksakan diri sebagai paradgima yang mendunia.
Bukti kongkrit akan hal tersebut yakni gagalnya ideologi modern kontemporer dalam wilayah praktis, utamanya yang terjadi dalam konteks sosial politik Mesir. Begitu juga gagalnya liberalism Barat yang tidak sanggup memajukan kondisi perekonomian masyarakat. Rontoknya sosialisme Negara dimana revolusi awal terjadi di Mesir pada Juli 1952 ternyata hanya mengubah system pemilikan dan cara-cara produksi, namun tidak mengubah kebudayaan massa yang masih dalam wajah tradisional.[1] Demikian halnya dengan sosialisme Islam yang pernah ada di Mesri, menrutu Hanafi bahwa itu hanya merupakan manipulasi teks untuk memberikan legitimasi aturan-aturan yang diundangkan pemerintah. Agama dijadikan alat untuk mendiskereditkan semua oposisi dan politik sekaligus dijadikan alat tafsir spiritual atas kegagalan Negara. Hasilnya adalah terbentuknya kelas baru dengan elit penguasa di puncak dan tumbuhnya feodalisme baru di pedesaan dan kapitalisme baru di sector swasta.
Semua ini merupakan kategori-kategori sosial yang tidak dapat dipahami dan dicerna oleh masyarakat. Akbitanya, ia mengalami kegagalan dalam menggerakkan dan member perspektif baru bagi rakyat. Barangkali juga, terminology ini menjadi inspirasi bagi ilmu-ilmu sosial di dunia Timur yang pada tahun 1970-an masih disibukkan dengan perdebatan perlu tidaknya indegenisasi (pribumisasi). Sifat keilmuan dengan perdebatan perlu tidaknya pribumisasi. Sifat keilmiahan sebuah ideologi jelas berbda dengan sifat kerakyatan sebuah agama. Sehingga diskursus ideologi kaum intelektual boleh saja tetap berlangsung, dan elit intelektual revolusioner boleh juga membentuk kepemimpinan berbasis massa.
Satu hal juga harus diingat bahwa dalam masyarakat mistis, ideology ilmiah merupakan sesuatu yang hampir pasti mustahil. Sedangkan ritualisme kesukuan, atau yang oleh Hanafi disebut sebagai fundamentalisme, telah terperosok dalam ritualisme tanpa makna, tanpa aspek ekonomi, politik dan sosial. Keduanya memiliki kelemahan yang sangat mendasar, yaitu keluar dari mainstream historitas kemanusiaa.[2] Dengan demikian, bangunan epistemology yang hendak dirumuskan oleh Hanafi untuk merumuskan paradigma bagi gerakan pembebasan adalah penguatan pemahaman atau pengetahuan masyarakat atas kekayaan tradisi-tradisi Islam serta memberikan analisis sosial berperspektif Marxian.
Pilihan paradigmataik untuk mengedepankan Kiri Islam jelas mengacu kepada analisis kelas yang mendominasi sosialisme dan buka semata Marxisme-Leninisme. Hanafi mencoba memodifikasi Marxisme-Leninisme sebagai tumpuan ide sosialismenya, seperti Sosialisme Arab. Paradigma itu perlu dimodifikasi karena hakikat materialism determisitik historis yang meniscayakan kehancuran ideologi-ideologi modern; seperti kapitalisme, feodalisme dan kemenangan proletar, ditolaknya secara tega Determinisme historis yang meniscayakan kebebasan manusiai itu dibneri ruh non-materilaistik, seperti pemunculan unsur-unsur progresif dalam agama dan pranata lain yang bersifat keruhanian atau kesejahteraan.[3]
Munculnya unsur-unsur progresif-transformatif dalam dunia Islam membuat Hassan Hanafi mulai berbicara tentang keharusan dunia Islam mengembangkan wawasan kehidupan progresif, dengan dimensi pembebasan (taharrur/liberation) di dalamnya[4] Watak pembebasan dari wawasan progresif bertumpu pada beberapa unsur penopang. Di satu sisi gagasan akan keadilan sosial harus ditegakkan, jika manusia ingin berperan sebagai pelaksana ketuhanan (khalifatullah) di muka bumi. Seorang khalifah harus memiliki otonomi penuh atas dirinya, dan itu dapat dicapai melalui tegaknya keadilan sosial.
Prinsip keadilan sosial bias menembus segala bentuk dan corak pemerintahan. Di sisi lain keadilan sosial hanya dapat terwujud jika ada pejuang pembebasan umat manusia yang terorganisir. Meski Islam menyuarakan pembebasan, tetapi ia tidak dapat dijadikan ideology yang semata-mata berfungsi memperjuangkan pembebasan. Keseluruhan warisan kesejahteraan Islam menunjuk kepada keharusan pencegahan hubungan langsung antara Islam dan kekuasaan. Bagi Hanafi, Islam sebaiknya berfungsi orientatif bagi ideology populis yang ada, dan pada waktu itu Mesir diwarnai oleh sosialisme.
Demikian kuatnya keyakinan Hanafi akan pentingnya tumbuhnya orientasi keislaman sebagai ideologi populis, akhirnya ia mencetuskan gagasan yang dikenal dengan Kiri Islam (al-yasar al-islami atau Islamic Left). Terminologi “kiri” dalam banyak hal mengandung kesan stigmatik, terutama tatkala dihadapkan kepada konstruksi dasar pengetahuan konservatif dalam memahami agama (Islam). Bila dikaitkan dengan situasi global, istilah “kiri” seolah terinspirasi oleh gerakan kaum sosialis atau spirit Herbert Marcuse (1898-1979), filosof Madzhab Frankfurt yang disebut sebagai pemberi ruh bagi New Left dan pemikirannya menjad inspirator lahirnya revolusi mahasiswa tahun 1968. Semua ini menunjukkan bahwa terminologi “kiri” selalu bersentuhan dengan gerakan-gerakan massa revolusioner.
Secara substansial istilah ini merupakan gagasan berbasiskan sistem epistemology rasional-kritis yang bertujuan untuk bersikap kritis terhadap bangunan pengetahuan dominan yang membelenggu dan manipulatif. Dalam pengetahuan yang dominan seringkali bersembunyi berbagai kepentingan ideologis. Pada aras inilah, gagasan Kiri Islam yang diperkenalkan Hanafi memberi ruh gerakan yang bertujuan untuk selalu melihat realitas obyektif sekaligus melakukan pemeriksaan terhadap akar kegagalan dari berbagai idelogi modern.
Kiri Islam merupakan sintesis dari eksplorasi atau tafsir ulang yang cerdas terhadap khazanah keilmuan Islam dan analisis konsep Marxian atas kondisi obyektif (tradisi) yang mengakar dalam sebuah masyarakat. Tradisi yang dimaksudkan adalah tradisi keagamaan yang membentuk medan kebudayaan massa. Bahkan dalam banyak hal Kiri Islam bertumpu pada tiga dataran metodologi: tradisi atau sejarah Islam, fenomenologi dan analisis sosial Marxian. Hanafi berkeyakinan bahwa Kiri Islam bias berhasil jika realitas masyarakat, politik, ekonomi, khazanah Islam dan tantangan
Barat dapat dianalisis dan konstruksi dasar bangunan epistemologisnya ditemukan.[5]Untuk menganalisis hal di atas, Hanafi menggunakan metode fenomenologi dengan mengungkapkan dua hal pokok: Islam telah dimanfaatkan untuk kepentingan politik dan melembaga dalam kehidupan bangsa Arab.[6] Analisis sosial perpektif Marxian menampilkan dua realitas kontras secara diametral: kaya-miskin, penindas-tertindas, penguasa-dikuasai, tuan tanah-buruh, terbelakang-maju, dan sebagainya. Analisis ini mirip dengan oposisi biner (binnary-oppositition) yang diperkenalkan filosof strukturalisme, Fredinand de Sausure.
Menurut Hanafi, Kiri Islam lahir setelah melihat berbagai kegagalan dalam metode pembaruan masyarakat Timur (Islam) yang dilakukan oleh beberapa generasi dalam mengentaskan keterbelakangan dan kemiskinan. Hal ini disebabkan karena beberapa hal. Pertama, berbagai tendensi keagamaan yang terkooptasi kekuasaan menjadikan agama (Islam) sekedar ritus dan kepercayaan yang bersifat ukhrawi. Padahal “realitas Islam” bukan merupakan representasi dari “sistem Islam”, sehingga gebyar ritus dan perayaan tersebut justru menjadi topeng yang menyembunyikan wajah dominasi tradisi Barat dan kapitalisme. Sementara itu, kecenderungan keagamaan yang tidak terkooptasi terjebak dalam fanatisme primordial, kejumudan dan berorientasi pada kekuasaan.
Kedua, liberalisme yang pernah berkuasa sebelum masa-masa revolusi berakhir terlihat didikte oleh kebudayaan Barat, berperilaku seperti penguasa kolonial dan hanya melayani kelas-kelas elit yang menguasai aset negara. Ketiga, Marxisme yang berpretensi mewujudkan keadilan sosial dan menentang kolonialisme, ternyata tidak diikuti dengan pembebasan rakyat dan pengembangan khazanah mereka sebagai energi untuk mewujudkan tujuan-tujuan kemerdekaan nasional.
Keempat, nasionalisme revolusioner yang berhasil melakukan perubahan-perubahan radikal dalam sistem politik-ekonomi ternyata tidak berumur lama, banyak mengandung kontradiksi dan tidak mempengaruhi kesadaran mayoritas rakyat. Itulah sebabnya Kiri Islam dimunculkan dalam rangka merealisasikan tujuan-tujuan pergerakan nasional dan prinsip-prinsip revolusi sosialis, dengan cara mengembangkan khazanah intelektual klasik yang berdimensi revolusioner dan berpijak pada kesadaran rakyat.
Tugas Kiri Islam dengan demikian adalah menguak unsur-unsur revolusioner dalam agama dan menjelaskan pokok-pokok pertautan antara agama dan revolusi. Agama dalam perspektif historis menjadi landasan dan revolusi menjadi tuntutan zaman. Agama, menurut Hanafi,[7] adalah revolusi itu sendiri dan para nabi merupakan revolusioner pembaru sejati. Ibrahim adalah cerminan revolusi akal yang menundukkan tradisi-tradisi buta, yaitu revolusi tauhid melawan berhala-berhala.
Musa merefleksikan revolusi pembebasan melawan otoritarianisme. Isa adalah contoh revolusi ruh atas dominasi materialisme, sedangkan Muhammad merupakan teladan kaum miskin dan komunitas tertindas dalam menghadapi para konglomerat elit Quraisy dalam perjuangan mereka untuk menegakkan masyarakat yang bebas, penuh persaudaraan dan egaliter.
Kiri Islam jelas merupakan konstruksi ideologi yang digali dari aspek-aspek revolusioner agama. Sebagai sebuah ideologi, Kiri Islam memuat landasan filsafat, perangkat analisis sosial, dan tahapan-tahapan gerakan. Kiri Islam juga telah memuat seperangkat gagasan, cita-cita, konsep dan keyakinan pemihakan yang tegas, dan dorongan untuk berjuang mewujudkan cita-cita ideologi tersebut. Bahkan ia sanggup memberikan cara membaca yang kritis dalam melihat dan menangkap realitas, eksistensi, dan manusia.


[1] Hassan Hanafi, The Genesis of A Secular Ideology, ( Mesir: Cukor, 1985), h. 132.
[2] Ibid., h. 137
[3] Abdurrahman Wahid, “Hassan Hanafi dan Eksperimentasinya”, Pengantar dalam Kazuo Shimogaki, Kiri Islam; Antara Modernisme dan Posmodernisme, Telaah Kritis Pemikiran Hassan Hanafi,Terj. Imam Azis, (Yokyakarta: Lkis., 1993), h. xiv.
[4] Hassan Hanafi, From Faith to Revolution, (Spanyol: Cordova Press, 1985), h. 231.
[5] Boullata, Islamika, edisi, I, (Juni-Sept, 1993), h. 23.
[6] Hanafi, Tafsir Fenomenologi, Terj. Yudian W. Asmin, (Yokyakarta: Bismillah Press, 2001), h. 68.
[7] Hanafi, From Faith to Revolution… Op.cit., h. 142.

WANITA SELALU MENGEMBALIKAN YANG LEBIH UNTUK PRIA

WANITA SELALU MENGEMBALIKAN YANG LEBIH UNTUK PRIA
► Jika kamu memberinya rumah, maka ia akan memberimu kehangatan dalam rumahmu..
► Jika kamu memberinya beras, ia akan mengembalikan nasi untukmu..
► Jika kamu memberinya CINTA, ia akan memberimu pengabdian seumur hidupnya..
► Tapi jika kau memberinya hinaan, ia akan memberimu do'a dalam airmata kepedihannya, danitu berarti siapkan dirimu untuk berjuta KEMALANGAN !
► Jika kemarin kamu berdo'a dan yakin bahwa dialah tulang rusukmu.. Maka terimalah dia bukan sebagai wanita yang sempurna, melainkan sebagai wanita yang terbaik dari ALLAH Subhanahu Wata'ala..
► Bukanlah dia yang tidak pernahberbuat salah.. Tapi dia yang selalu berkata maaf untuk setiap kesalahannya dan ia yang punya sejuta maaf untuk kesalahanmu..
► Ia yang menerima masa lalu mudan yang siap merancangkan masa depannya bersamamu..
► Ia yang selalu cemas dan hilangakal ketika kamu tak memberinya kabar..
► Jika dulu sifat manjanya membuatmu tertawa lucu, cemburunya berarti sayang, air matanya bisa menyayat hatimu..
Maka merenunglah sejenak !!
► Mengapa wanita tercipta dari tulang rusuk pria..??
► Bukan dari tulang kepala, karena wanita bukan untuk memimpin pria..
► Bukan dari tulang kaki, karena wanita bukan alas kaki pria..
► Wanita tercipta dari tulang rusuk pria karena dekat dengan hati, agar wanita menjadi pendamping, penjaga hati..
► Karena wanita akan terlelap dalam dekapan pria / suaminya..
► Karena wanita tahu dari sana dia berasal..
Karena itulah wanita makhluk yang dimuliakan oleh Allah....

Hidup Sederhana

sumber : www.datdut.com




Hidup Sederhana...


Hidup yang mudah, ringkas, nyaman, bahagia, cukup

Ukurannya bukan miskin kaya

ukurannya bukan banyak sedikit

ukurannya bukan kamu dan mereka


itu ukurannya pada diri kita...


hidup berkah dan bermanfaat


Cara Mendapatkan Uang Haram Di Internet 2

Ini kelanjutan sequel artikel sebelumnya....


Disini tidak membahas halal dan haram. Dalilnya dan penjelasannya.

Disini hanya dikabarkan caranya, meski hanya sekilas, tetapi akan memberi gambaran utuh bagi yang cerdas dan sabar. Tidak ada gunanya ilmu bagi orang pemalas dan tidak cerdas.

Karena dunia internet itu dunia dengan kecepatan tinggi dan dibutuhkan orang cerdas, nekat dan beruntung.

Bagi yang manja, tidak usah bermimpi kaya raya dari internet.

Caranya adalah :

1. Bikin akun sebanyak-banyaknya. Baik akun facebook, twitter, instagram, blog, adsense, akun abal-abal lain. Dengan jutaan akun ditangan, ibarat dewa, kita bisa perintahkan apa saja. Tentu ini sumber uang haram nya dari internet.

2. Punya nomor HP dan Laptop yang banyak. Kalau Jago, punya IP bayangan.

3. Uang haram di internet banyak, pilih yang tidak banyak modal dan tidak merugikan dunia nyata. Jadi yang dirugikan cuma akun akun abal abal lain.

4. Siapkan rekening yang banyak. Tentu rekening nyata.

5. Sumber uang haram, yang terbesar dari iklan. Miliki akun adsens blog, Youtube, dan lainnya. Selain itu juga bikin admob buat aplikasi android.

6. Setelah punya akun, bikin web, blog yang banyak dan apa saja temanya. Usahakan trafik nya tinggi.

7. Prioritaskan targetnya adalah bule eropa amerika. Pakai dolar juga.

8. Bikin aplikasi android yang banyak. Pasang di playstore

9. Aktif di media sosial. Promosikan yang kita punya....

10. Rajin dan rajin


( bersambung )

Selamat Hidup Baru




Setiap hari, kita hidup baru, hari baru, jam baru, detik baru, nafas baru...


Kita selalu baru, baik impian, cita-cita, makanan dan lainnya.

Satu-satunya yang model lama adalah catatan perbuatan kita, baik yang baik dan buruk.

Setiap hari kita bisa berbuat dan memperbarui amal kita, catatan kita.

Tetapi catatan yang lalu, akan jadi model lama dan terekam terus sampai kiamat.

Jadi.. hati-hatilah

Menjalani hari-hari

  Hidup adalah masa-masa yang indah dan penuh warna. Berbagai rasa bisa kita nikmati atau tidak kita rasakan. Sejauh mana kaki melangkah, sejauh mana khayalmu, sejauh mana mata memandang, hendaklan kaki tetap berjalan
  Semua perjalanan ini akan terasa indah nantinya.

Sapi Gemuk

  Sapi Gemuk dan Sehat




Sapi bisa dirawat dengan baik.

Dengan merawat dan memelihara dengan sungguh-sungguh, hasilnya akan memuaskan...


Keadilan dan Kemakmuran

Aku tak ingin, ada satu dua orang pemodal, punya uang untuk merebut jutaan hektar tanah, memiliki perkebunan perkebunan dengan banyak buruh murah didalamnya, menguasai kehidupan dengan kekayaannya, sementara di sisi lainnya ada mereka yang masih mengais ngais kehidupan dan mengontrak tempat tinggal.

Kemerdekaan ini direbut untuk memenangkan permodalan juga yang kemudian dinikmati seluruh rakyat, bukan memenangkan para cukong, bukan memenangkan para penggede, bukan memenangkan para ndoro... Rakyatlah alasan utama negeri ini berdiri.

Hidup adalah Anugerah

  Hidup ini adalah hadiah terbaik dari Tuhan. Bukan warisan orang tua. Sejatinya mereka tidak bisa memberikan apapun. Cuma bisa menggunakan dan pindah tangan saja. Itupun kalau punya.





  Bersyukurlah dan nikmatilah.


Gunakan yang kita punya, gunakan yang ada, maksimalkan yang kita kuasai.


Kerjakan terus menerus, waktu terbaik.

Kerjakan dengan serius dan sungguh-sungguh.

Cara Mendapatkan Uang Di Internet

Ada 3 cara :

1. Mempunyai Blog / web

2. Mempunyai Akun Youtube

3. Aplikasi android


Sedangkan untuk iklan pakai admob dan adsense.


Jadi, untuk mendapatkan uang di internet, anda harus memiliki yang diatas itu.
Setelah punya, lakukan optimasi dan meningkatkan trafik atau download.

Dengan cara diatas, maka cara mendapatkan uang internet akan tercapai. Tentu butuh kesabaran dan keyakinan.

Anda akan banyak menghabiskan uang dan waktu didepan komputer.


sumber : www.uangteman.com